Arsip Kategori: Dakwah

Renungan Malam

Assalamualaiykum rwb

Halo sahabat Muslim?

Apa kabarnya hari ini? Allah senantiasa memberi rahmat yang paling indah bukan? Apapun episode kita hari ini, percayalah bahwasannya Allah senatiasa dekat dengan kita, bahkan Ia lebih dekat dari urat nadi leher kita. Nah lo???. Yang ada mah kita yang jauh dari Allah. Ingatkah kawan? Ada syair lawas dengan gubahan yang menggugah.

Tuhan dulu pernah

Aku menaruh simpati, kepada manusia yang alpa jua nista

Lalu terseretlah Aku di lorong gelisah

Luka hati yang berdarah, kini jadi kian parah

Tuhan, dosaku menggunung tinggi

Tapi rahmatmu, melangit luas

Bila selangkah kudatang padamu

Seribu langkah kau datang padaku

Mak jleb banget kan tuh syair? Bagaimana tidak coba, siapapun yang menjalani hidup ini kan tidak maksum. Seklai lagi TIDAK MAKSUM. Ini artinya, tiap dari kita memiliki potensi berbuat dosa. Aku tidak bisa befikir lagi, mengapa hal ini terjadi pada anak adam. Ya memang begitulah adanya. Manusia adalah tempat lupa dan alpa. Adakah sempurna itu kita? Adakah mulia itu kita? Semua masih relatif. Hanya kematian yang akan membuktikan pada dunia dan surga Allah yang menjadi saksi kalau kita memang layak menjadi penghuninya. Kematian yang menghampiri kita disetiap waktu akan menjadi saksi bisu kalau kita memang termasuk golongan pecinta kebaikan, kebenaran dan akhlak terpuji. Seorang yang nampak preman dan pecicilan, belum tentu ia akan menjadi seperti itu selamanya. Seorang ulama juga tidak ada jaminan ia akan menjadi pejuang Islam untuk selamanya. Tergantung ia temannya siapa. Kalau temannya seorang penguasa fasik, dzolim atau kafir, hati-hati tuh. Bisa kemakan jadi anteknya, tau rasa. Hehehehe.

Kalau Aku berandai-andai jadi seorang alim, kok berat yah? Tapi tidakapa-apa toh? Itu juga bagian dari harapan yang baik, meski relitasnya tipis sekali J. Aku itu bukan tipe orang yang hafalannya banyak, aku itu , ah gak jadi…

Sekarang ke Khilafah. . .  jadi untuk memperjuangkan Islam itu ga harus ribet-ribet banget kok. Biasa aja, tawadhu n  terus belajar, ngontak, isi halqoh, belajar lagi, isi lagi, dan terus belajar, baik sendiri atau dengan orang lain. Sekali kali boleh dong isi orasi saat kampanye Syariah Khilafah, atau orasi penolakan Obama datang ke Indonesia, orasi simpati Palestina dll. Banyak kok, kasus seperti itu akan tetap ada di mata dunia Islam

Yah, memang kita harus berfikir mendasar dahulu sebleum memulai dan berjalan sejauh itu, berfikir mendasar, mendalam dan cemerlang memang tidak mudah, tapi yakniklah akan manis di akhirnya.

 

 

NASEHAT ULAMA UNTUK UMAT ISLAM

بسم الله الرحمن الرحيم

NASEHAT ULAMA UNTUK UMAT ISLAM,

SELAMATKAN INDONESIA!

Dengan memperhatikan hal-hal berikut:

Bahwa Ulama’ adalah hamba Allah yang paling takut pada Allah SWT. Dia Ta’ala, berfirman:إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama’…” (TQS Fathir: 28)
Maka para Ulama akherat hanya takut pada Allah SWT; hanya takut pada adzab-Nya. Keberanian, ketegasan, serta keterusterangan ulama dalam menyampaikan al haq dan menolak al batil tercatat dengan tinta emas dalam kitab-kitab tarikh, mulai dari kitab yang kecil sampai besar.

Bahwa:
krisis multi dimensional yang terus mendera negeri kita, semakin hari semakin mengkhawatirkan; dan Pemerintah tidak pernah menunjukkan kesungguhan dalam menyelesaikannya;
bala’ yang menimpa Indonesia, adalah bala’ yang menimpa umat Islam; karena Indonesia adalah negeri Islam; penduduk Indonesia mayoritas muslim;
Menurut syara’ krisis multidimensional yang terjadi adalah kafasidan; dan penyebab fundamental kefasidan tersebut adalah maksiat pada Allah SWT; dan solusi satu-satunya adalah kembali ta’at pada-Nya;
Bahwa:
Demokrasi adalah masdar (sumber) dari semua kefasidan yang terjadi di negeri kita; karena Demokrasi identik dengan penerapan hukum selain hukum Allah, penerapan hukum kufur. Dan penerapan hukum kufur adalah perbuatan maksiat yang besar, bahkan sebesar-besarnya maksiat.
Mempertahankan Demokrasi dengan semau pernik-perniknya, menjaga keberlangsungan, serta eksistensinya identik dengan mempertahankan kefasidan, mempertahankan kemaksiatan pada Allah SWT, mempertahankan yang diharamkan Allah; mempertahan krisis multidimensional yang terjadi di Indonesia;
Bahwa para ulama ahlus sunnah wal jama’ah muttafaq tentang wajibnya menegakkan khilafah Isalamiyyah, bahkan kwajiban menegakkan khilafah Islamiyyah merupakan kwajiban yang ahammul wajibat (kwajiban yang paling penting);
Bahwa sebentar lagi negeri kita akan melaksanakan perhelatan nasional, pemilu, pileg maupun pilpres; dan opini umum di tengah-tengah masyarakat pemilumasih identik dengan harapan terjadi perubahan; perubahan dari buruk menjadi baik, dari yang kurang baik menjadi lebih baik, dari dzalim menjadi adil, dst.

Kami para ulama, kyai, pengasuh pondok pesantren hamba-hamba-Nya yang dha’if, dengan segala kerendahan hati dan penuh keikhlasan, mengajak seluruh elemen umat Islam khususnya ulama, tokoh-tokoh ormas, parpol, tokoh-tokoh masyarakat, dan para politisi untuk:

Meninggalkan Demokrasi dengan semua pernik-perniknya; tinggalkan sistem yang dzalim; sistem yang membuka pintu lebar-lebar hegemoni, dominasi bahkan penjajahan asing-kafir; penyebab utama terjadinya krisis multidimensional; sistem yang menjadikan manusia sebagai al-hakim (pembuat hukum); sistem yang menghalalkan yang diharamkan Allah; sistem yang mengharamkan yang dihalalkan Allah; sistem kufur yang diharamkan oleh syara’;
Bersama-sama, bahu membahu, saling menopang, saling mengisi dan saling melengkapi dalam menunaikan kwajiban syar’i kita menegakkan khilafah Islamiyyah;
Menjadikan masa menjelang pemilu sebagai momentum untuk:
Tafakkur; merenungkan apa yang terbaik bagi kita, bagi umat; apa yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam, agar kehidupan kita berkah, diridhoi Allah, dan selamat dunia akherat;
lahirnya kesadaran bahwa obat mujarab, obat yang menyembuhkan dengan tuntas krisis multidimensional Indonesia adalah dengan ta’at pada Allah; kesadaran bahwa penyebab tenggelamnya Indonesia di dalam kubangan krisis multidimensional adalah diterapkannya hukum selain hukum Allah; diterapkannya sistem Demokrasi;
menyelamatkan Indonesia, dengan perubahan sistem, bukan hanya perubahan rezim; perubahan dengan meninggalkan sistem Demokrasi dan tegakkan khilafah Islamiyyah.

Surabaya, 08 Maret 2014

Pasal 3 Muqaddimah ad Dustur (UUD Khilafah): Hak Kholifah Mengadopsi Hukum Syara’

Pasal 3: Khalifah mengadopsi hukum-hukum syariah tertentu yang dilegislasinya sebagai undang-undang dasar dan undang-undang. Undang-undang dasar dan undang-undang yang telah diadopsi oleh Khalifah menjadi satu-satunya hukum syariah yang wajib dilaksanakan dan menjadi perundang-undangan yang wajib ditaati oleh setiap individu rakyat, baik secara lahir maupun secara batin (Muqaddimah ad-Dustur, Cet. II, 2009, hlm. 16).

Pengantar

Seperti negara mana pun di dunia, Khilafah juga memerlukan seperangkat undang-undang untuk mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakatnya. Tentu ada bedanya. Pertama: substansi hukum dalam UU di negara Khilafah hanyalah hukum syariah yang digali dari al-Quran dan as-Sunnah. Sebaliknya, dalam negara sekular, substansi hukumnya adalah hukum kufur buatan manusia. Kedua: yang berhak melegislasi UU dalam negara Khilafah hanyalah Khalifah sebagai kepala negara. Sebaliknya, dalam negara demokrasi sekarang, yang berhak melegislasi UU adalah badan legislatif, yakni DPR sebagai wakil rakyat.

Tulisan ini bermaksud menjelaskan lebih jauh kewenangan Khalifah tersebut, yaitu melegislasi hukum syariah menjadi UU. Hal ini sebagaimana pasal 3 Rancangan UUD Negara Khilafah yang digagas Hizbut Tahrir (HT), yang berbunyi: Khalifah mengadopsi hukum-hukum syariah tertentu yang dilegislasinya sebagai undang-undang dasar dan undang-undang. Undang-undang dasar dan undang-undang yang telah diadopsi oleh Khalifah menjadi satu-satunya hukum syariah yang wajib dilaksanakan dan menjadi perundang-undangan yang wajib ditaati oleh setiap individu rakyat, baik secara lahir maupun secara batin (Muqaddimah ad-Dustur, Cet. II, 2009, hlm. 16).

Pasal ini mengandung 2 (dua) poin. Pertama: hak khusus Khalifah melegislasi UU. Kedua: kewajiban rakyat menaati UU yang dilegislasi Khalifah.

Antara Adopsi dan Legislasi

Adopsi (tabanni) dalam pandangan HT adalah tindakan seorang Muslim memilih suatu hukum syariah dan menjadikannya hukum untuk dirinya, disertai dengan keharusan untuk mengamalkan, mengajarkan dan mendakwah-kan hukum itu pada saat ia mendakwahkan hukum dan pemikiran islami (An-Nabhani, 2003: 136; Baba, 2008: 26; Radhi, 2006: 13).

Adopsi merupakan keharusan pada saat terdapat khilafiyah dalam suatu hukum syariah. Misalnya masalah menyentuh perempuan, ada khilafiyah apakah itu membatalkan wudhu atau tidak. Menurut mazhab Syafii, membatalkan, sedang menurut mazhab Hanafi tidak. Dalam kondisi seperti inilah seorang Muslim wajib mengadopsi satu hukum syariah tertentu bagi dirinya. Sebab, hukum Allah bagi satu individu dalam satu masalah adalah satu saja, tidak berbilang (An-Nabhani, 2003: 135).

Adopsi ini dilakukan oleh tiga subjek. Pertama: individu. Misalnya adopsi dalam khilafiyah wudhu seperti dicontohkan di atas. Kedua: Jamaah (kelompok). Misalnya adopsi mengenai metode yang ditempuh untuk menegakkan Khilafah. Ketiga: Negara (Khalifah). Misalnya adopsi mengenai hukum-hukum ijtihadiah dalam masalah jihad, zakat, pajak, kharaj, jizyah dan sebagainya (Baba, 2008: 79).

Dengan demikian, ada perbedaan antara istilah adopsi (tabanni) dan legislasi (sann ad-dustûr wa al-qawânîn; taqnîn asy-syarî’ah). Perbedaannya terletak pada cakupannya. Adopsi bersifat umum mencakup adopsi oleh individu, jamaah dan negara. Adapun legislasi bersifat khusus, yaitu hanya dilakukan oleh Khalifah sebagai kewenangan khusus baginya. Ketika dilakukan oleh Khalifah inilah, adopsi identik dengan legislasi, yang didefinisikan sebagai tindakan Khalifah menetapkan suatu hukum syariah sebagai undang-undang dasar (UUD) atau undang-undang (UU) resmi yang berlaku mengikat untuk seluruh aparat pemerintah dan individu rakyat.

Hak Khusus Khalifah Melegislasi UU

Poin pertama pasal 3 Rancangan UUD Khilafah menegaskan bahwa dalam negara Khilafah, otoritas legislasi ada di tangan Khalifah selaku kepala negara. Dalilnya adalah Ijmak Sahabat ra. Pada saat Abu Bakar menjadi Khalifah, beliau menetapkan ucapan talak sebanyak tiga kali sebagai talak satu. Beliau juga menetapkan harta Baitul Mal dibagi dalam jumlah yang sama besarnya kepada seluruh rakyat. Khalifah Abu Bakar memerintahkan kebijakan ini atas seluruh aparat pemerintah dan rakyat.

Namun, saat Umar bin al-Khaththab menjadi khalifah, beliau menetapkan ucapan talak sebanyak tiga kali sebagai talak tiga (bukan talak satu). Beliau juga menetapkan pembagian harta Baitul Mal dengan cara berbeda dari cara Khalifah Abu Bakar. Jika Abu Bakar menyamaratakan, Umar membaginya tidak sama rata, bergantung pada siapa yang lebih dulu masuk Islam, tingkat kebutuhan hidup, dan partisipasinya dalam jihad fi sabilillah. Khalifah Umar pun memerintahkan kebijakan ini atas seluruh aparat pemerintah dan rakyat.

Para Sahabat Nabi saw. tidak ada yang mengingkari tindakan Khalifah Abu Bakar dan Umar itu. Dengan demikian, telah terwujud Ijmak Sahabat dalam 2 (dua) persoalan. Pertama: bahwa Khalifah berhak mengadopsi dan melegislasi suatu hukum syariah yang diberlakukan secara umum kepada seluruh rakyat. Kedua: bahwa wajib atas rakyat menaati Khalifah dalam hukum-hukum syariah yang telah dilegislasi oleh Khalifah (Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 17).

Berdasarkan Ijmak Sahabat tersebut di-istinbâth beberapa kaidah syariah yang terkenal, misalnya:

لِلسُّلْطَانِ أَنْ يُحْدِثَ مِنَ الأَقْضِيَةِ بِقَدْرِ مَا يَحْدُثُ مِنْ مُشْكِلاَتٍ

“Penguasa berhak menetapkan keputusan-keputusan baru sesuai dengan problem-problem baru yang terjadi”.

أَمْرُ الإِمَامِ يَرْفَعُ الْخِلاَفَ

“Perintah Imam (Khalifah) menghilangkan perbedaan pendapat”.

أَمْرُ الإِمَامِ نَافِذٌ ظَاهِراً وَبَاطِناً

“Perintah Imam (Khalifah) wajib dilaksanakan, baik secara lahir maupun batin” (Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 17).

Jelas, hak legislasi dalam negara Khilafah ada di tangan Khalifah saja, bukan yang lain.

Maka dari itu, tidak tepat pendapat sebagian ulama yang menyatakan legislasi dalam negara Khilafah adalah hak Ahlul Halli wal Aqdi. Keliru pula pendapat Muhammad Abduh yang menjadikan legislasi sebagai hak Dewan Perwakilan Rakyat (Parlemen) (Al-Badrani, An-Nizhâm asy-Siyâsi Ba’da Hadm Dawlah al-Khilâfah, hlm. 11; Al-Hamdawi, Fiqh al-Ahkâm as-Sulthâniyah, hlm. 16).

Namun, hak legislasi bagi Khalifah ini hukum asalnya adalah boleh (mubah), tidak wajib. Sebab, Ijmak Sahabat yang terwujud dalam persoalan ini menetapkan legislasi adalah hak Khalifah, bukan kewajiban Khalifah. Jadi, Khalifah boleh melegislasi dan boleh pula tidak. Jika Khalifah dapat menyelenggarakan urusan negara tanpa legislasi maka berlakulah hukum asal legislasi, yaitu mubah. Misalnya dalam masalah nishâb (jumlah minimal) saksi dalam peradilan. Namun, jika Khalifah tidak dapat menyelenggarakan urusan negara tanpa legislasi maka legislasi hukumnya menjadi wajib, berdasarkan kaidah syariah: Mâ lâ yatimm al-wâjibu illâ bihi fahuwa wâjib. (Selama suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu wajib pula hukumnya). Hal ini berlaku pada segala persoalan yang menyangkut persatuan umat dan kesatuan penyelenggaraan negara. Misalnya, hukum-hukum zakat, jihad dan perjanjian (mu’âhadât); penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha; dan sebagainya.

Kewajiban Rakyat Menaati UU yang Dilegislasi Khalifah

Poin kedua pasal 3 Rancangan UUD Khilafah menegaskan bahwa wajib hukumnya atas seluruh aparat dan rakyat menaati UU yang dilegislasi oleh Khalifah, baik secara lahir maupun batin. Dengan kata lain, tidak boleh aparat ataupun rakyat mengamalkan hukum lain di luar hukum yang telah diadopsi oleh Khalifah. Sebab, hukum Allah yang berlaku bagi kaum Muslim adalah hukum yang telah diadopsi oleh Khalifah. (Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 17).

Namun demikian, bukan berarti rakyat harus mengadopsi apa yang diadopsi oleh Khalifah. Mereka cukup tunduk pada apa yang diadopsi Khalifah. Artinya, ketaatan rakyat hanya terbatas pada aspek amal, bukan pada aspek keyakinan (opini). Jadi, rakyat tetap boleh menganut pendapat yang berbeda dengan pendapat Khalifah, bahkan boleh pula mengajarkan atau mendakwahkan pendapat yang berbeda dengan pendapat Khalifah (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah, II/138-139; Baba, Tabanni Afkâr al-Islâm wa Ahkâmihi, hlm. 113).

Misalnya Khalifah mengadopsi pendapat yang mengharamkan menyewakan lahan pertanian. Dalam hal ini, rakyat hanya wajib menaati dari segi amal saja, yaitu melaksanakan hukum tersebut, dan tidak boleh melaksanakan hukum selainnya. Namun, dari segi keyakinan, rakyat boleh menganut, mengajarkan dan mendakwahkan pendapat yang membolehkan menyewa lahan pertanian.

Dengan demikian, tidak tepat perkataan Nashiruddin al-Albani, “Seorang hakim tidak wajib dalam peradilan untuk mengadopsi pendapat Khalifah jika terbukti baginya bahwa pendapat Khalifah menyalahi Sunnah.” (Albani, As-Silsilah ash-Shahîhah, 2/163). Artinya, dalam pandangan Albani, jika pendapat Khalifah tidak menyalahi as-Sunnah, wajib atas hakim mengadopsi apa yang diadopsi Khalifah (Al-Mas’ari, Al-Hâkimiyah wa Siyâdah asy-Syara’, hlm. 320).

Pemahaman Albani itu tidak tepat. Sebab, kewajiban hakim bukanlah mengadopsi apa yang diadopsi Khalifah, melainkan melaksanakan apa yang diadopsi Khalifah. Jadi, ketaatan yang wajib dilakukan hakim adalah aspek amal saja, bukan aspek keyakinan atau opini. Hakim tetap boleh mengadopsi pendapat yang berbeda dengan pendapat yang diadopsi Khalifah meski yang wajib dijalankan dalam praktik hanyalah pendapat Khalifah saja, bukan pendapatnya sendiri.

Sejalan dengan pengertian ini, yang dimaksud menaati Khalifah secara lahir dan batin bukanlah menaati dalam perbuatan lahiriyah dan keyakinan dalam hati, melainkan menaati secara rahasia (fî as-sirr) dan secara terang-terangan (fî al-’alaniyyah). (Hawari,’Isyruna Nadwah, hlm. 190; An-Nabhani, Ad-Dawlah al-Islamiyah, hlm. 143).

Maka dari itu, dengan memahami persoalan ini secara jernih dalam segala dimensinya, tidak perlu muncul kekhawatiran akan macetnya ijtihad, sebagaimana kritikan sebagian pihak yang salah paham terhadap Hizbut Tahrir.

Menurut mereka, menaati apa yang diadopsi oleh Khalifah akan menumpulkan ijtihad. Tentu tidak demikian. Sebab, sekali lagi, ketaatan rakyat hanya pada aspek amal, bukan aspek opini. Rakyat tetap boleh berijtihad walaupun menghasilkan pendapat yang berbeda dengan pendapat yang diadopsi Khalifah. Wallâhu a’lam.

Dafar Bacaan

Al-Asyqar, Umar Sulaiman, Mu’awwiqât Tathbîq asy-Syarî’ah al-Islâmiyyah (Amman: Darun Nafais), 1992.

Al-Badrani, Hisyam, Tabshîrah al-Afhâm (Syarh Nizhâm al-Islâm) (t.tp: t.p.), t.t.

—————, Al-Nizhâm as-Siyâsi ba’da Hadm Dawlah al-Khilâfah (t.tp: t.p.), t.t.

Al-Hamdawi, Abdul Karim, Fiqh al-Ahkâm as-Sulthâniyah (t.tp: t.p.), 1421.

Al-Lahwu, ’Amir bin Isa, Harakah Taqnîn al-Fiqh al-Islâmi (t.tp.: t.p.), t.t.

Al-Mas’ari, Muhammad Abdullah, Al-Hâkimiyah wa Siyâdah asy-Syara’, (London: Lajnah Al-Difa’ ’An Huquq Al-Syar’iyyah), 2002.

—————, Thâ’at Ulil Amri Hudûduhâ wa Quyûduhâ (London: Lajnah Ad-Difa’ ’an Huquq Asy-Syar’iyyah), 2002

An-Nabhani, Taqiyuddin, Nizhâm al-Islam (Beirut: Darul Ummah), 2001

—————, Ad-Dawlah al-Islâmiyah (Beirut: Darul Ummah), 2002.

—————, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah, II (Beirut: Darul Ummah), 2003

Asy-Syatsry, Abdurrahman, Taqnîn as-Syarî’ah bayna at-Tahlîl wa at-Tahrîm (t.tp.: t.p.), 1426.

Baba, Awat Muhammad Agha, Tabanni Afkâr al-Islâm wa Ahkâmihi (t.t.p: Al-Jami’ah Al-Mustanshiriyyah), 2008.

Bassam, Abdullah, Taqnîn asy-Syarî’ah Adhrarahu wa Mafâsiduhu (Makkah: Dar Al-Tsaqafah), 1379.

Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Cet. Ke-14, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama), 1992.

Hawari, Muhammad, ’Isyrunâ Nadwah fî Syarh wa Munâqasyah Masyrû’ Tathbîq al-Islâm fî al-Hayah, (t.tp: t.p), 2002.

Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilâfah (Beirut: Darul Ummah), 2005.

—————, Muqaddimah ad-Dustûr, Cetakan II, (Beirut: Darul Ummah), 2009.

Mufti, M. Ahmad, dan Sami Shalih Al-Wakil, Formalisasi Syariah dalam Negara Khilafah (At-Tasyrî’ wa Sann al-Qawânîn fî ad-Dawlah al-Islâmiyah), Penerjemah M. Fakhrur Rozi, (Yogyakarta: Media Pustaka Ilmu), 2002.

Radhi, Muhammad Muhsin, Hizb at-Tahrîr Tsaqâfatuhu wa Manhâjuhu fî Iqâmah Dawlah al-Khilâfah al-Islâmiyah (Baghdad: Al-Jami’ah Al-Islamiyah), 2006.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPERLEMAH NEGARA ISLAM

Negara Islam berdiri di atas ideologi (mabda’) Islam. Di dalam ideologi Islam terdapat kekuatannya. Dengannya semata, kekokohan Negara Islam menjadi kenyataan dan ketinggiannya dapat tercapai. Berarti ideologi Islam adalah penopang utama wujudnya Negara Islam. Karena itu, Negara Islam berdiri dengan kuat karena kuatnya Islam. Negara Islam berhasil menaklukan negeri-negeri di dunia yang sangat luas hanya dalam masa kurang dari seabad, padahal sarananya hanya kuda dan unta. Semua bangsa dan umat yang ditaklukan Islam tunduk dalam waktu yang ringkas, padahal alat-alat dan sarana penyebarannya tidak meluas. Tidak ada alat selain lidah dan pena. Semua ini terwujud dengan sangat cepat tidak lain karena faktor Islam. Islamlah yang menjadikan Negara kuat.

            Musuh-musuh Islam mengetahui hal itu. Mereka sadar bawa Negara Islam tidak dapat dilemahkan selama Islam kuat mengakar dalam jiwa para pemeluknya, dalam pemahaman, dan penerapannya. Dengan sadar, mereka berusaha menciptakan sarana-sarana yang akan memperlemah pemahaman kaum muslimin dan penerapan hukum-hukumnya.

Sarana-sarana yang mereka gunakan jumlahnya banyak. Di antaranya yang berkaitan dengan nash-nash Islam, bahasa yang dipakai, dan yang berkaitan dengan penuntasan fakta-fakta kehidupan. Sasaran yang mereka tuju adalah hadits-hadits nabi. Caranya dengan menyusupkan hadits-hadits palsu ke dalam hadits-hadits shahih yang asli. Hadits-hadits yang disusupkan tidak pernah dikatakan Nabi SAW. Akan tetapi mereka memalsunya dan menyusupkan makna-makna yang tidak islami dan pemahaman-pemahaman yang bertentangan dengan Islam ke hadits-hadits shahih yang asli, sehingga kaum Muslimin mengambil dan mengamalkannya, lalu mereka terjauhkan dari Islam. Mereka mendustakan Rasulullah SAW dengan cara memalsukan hadits-hadits di antara hadits-hadits yang asli dan menyebarkannya di tengah manusia. Hanya kaum Muslimin yang memahami Islam dan kaum zindiq yang bebas dari tipu daya itu. Mereka berhasil menggagalkan komplotan mereka. Para ulama dan perawi hadits bangkit. Mereka mengumpulkan hadits-hadits dan menyusun sejarah para perawinya dan sifat-sifat mereka, lalu menjelaskan mana hadits yang shahih, lemah, dan palsu sehingga sebuah hadits pun bisa dipelihara keasliannya. Dalam operasi penyeleksiannya, periwayatan hadits dibatasi hanya sampa periode tabi’ina tabiin (generasi setelah tabi’in atau dua generasi setelah sahabat) yang memperoleh hadits dari generasi tabi’in yang mendapatkannya dari sahabat. Hadits apapun yang diterima setelah generasi tabi’ina tabi’in, tidak diterima oleh para ulama penyeleksi hadits. Para perawinya juga diidentifikasi secara teliti dan tiap perawi diketahui dengan detil. Kemudian disusun dan dipaparkanlah tingatan-tingkatan kitab-kitab hadits, sehingga seorang Muslim jika mempelajari atau menelusuri sebuah hadits dimungkinkan akan mengetahui shahih tidaknya hadits dan lemah atau palsu tidaknya hadits. Dia dapat mengetahui ini dengan mengetahui sanad dan matan hadits.

Di luar semua itu(upaya memelihara kemurnian sumber-sumber hukum Islam), Negara Islam juga melakukan penjagaan dengan menghukum kaum zindiq dengan tangan besi. Sangsi paling berat yang mereka terima atas pemalsuan hadits dalah hukuman mati. Dengan demikian, komplotan yang hendak merusak Islam dan negaranya tidak memiliki pengaruh yang berarti.

Kemudian sasaran perusakan berikutnya yang dilancarkan musuh-musuh Islam adalah bahasa Arab karena bahasa inilah yang dipakai Islam. Mereka berusaha memisahkan bahasa Arab dari Islam. Pada mulanya mereka tidak berhasil melakukannya karena kaum Muslimin pada saat melakukan penaklukan negeri-negeri, mereka membawa Kitabullah, sunnah Nabi, dan bahasa Arab. Mereka mengajari manusia bahasa Arab sebagaimana mengajari mereka Al-Qur’an dan hadits. Orang-orang pun berbondong-bondong masuk Islam. Mereka belajar bahasa Arab sampai mahir kemudian mematangkannya. Bahkan, diantara kaum ‘ajam (orang-orang non-Arab) terdapat imam Mujtahid, seperti Abu Hanifah, juga ada penyair-penyair yang andal dan brilian, seperti Basyar bin Bard, dan ada pula penulis yang sangat tajam, seperti Ibnu al-Muqaffa’.

Dalam menjaga kemurnian bahasa Arab, kaum Muslimin sangat keras, sampai Imam Syafi’i tidak membolehkan penerjemahan Al Qur’an dan melarang shalat dengan bahasa selain bahasa Arab. Para ulama yang membolehkan penerjemahan Al Qur’an seperti Abu Hanifah, tidak menamakannya dengan tarjamahan Al Qur’an secara mutlak. Seperti demikianlah dukungan yang selalu diberikan pada bahasa Arab. Bahasa Arab diposisikan sebagai bahasa yang sangat penting karena kedudukannya merupakan bagian dari permata Islam dan syarat diantara syarat-syarat itjihad. Pemahaman Islam yang diambil dari sumber-sumbernya dan pengambilan istinbat hukum tidak mungkin diperoleh kecuali dengan bahasa Arab. Hanya saja bantuan atau dukungan ini telah hilang setelah abad ke-6 Hijriyah ketika yang menguasai pemerintahan adalah orang yang tidak mengetahui nilai bahasa Arab. Penguasa itu menyia-nyiakan urusan bahasa Arab. Akibatnya ijtihad menjadi terhenti dan tidak mungkin orang yang tidak mengetahui bahasa Arab mengambil istinbat hukum. Bahasa Arab menjadi terpisah dari Islam. Pemahaman Islam yang kacau mengacaukan Negara, dan otomatis kekacauan ini juga mengacaukan penerapannya. Ini memiliki pengaruh yang besar dalam Negara (Daulah Islam) dan pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa aktual. Akibatnya, problem-problem yang muncul tidak terpecahkan atau terpecahkan tetapi tidak benar, sehingga menumpuk di hadapan Negara yang pada gilirannya menyebabkan Negara terguncang dan akhirnya lenyap.

Ini kaitannya dengan nash-nash Islam dan bahasa Arab. Adapun sarana-sarana yang dipakai dalam kaitannya upaya untuk memperlemah tata laksana Islam dalam menyelesaikan fakta-fakta kehidupan, maka musuh-musuh Islam sejak beberapa abad pertama berusaha menyelaraskan antara filsafat India dan Islam. Zuhud dalam masalah-masalah keduniaan dan pencarian akhirat ditafsiri dengan praktek hidup yang sengsara dan penyiksaan badan. Akibatnya, banyak orang Islam yang menjauhkan diri dari gemerlap kehidupan dan menarik diri untuk tidak terjun ke dalam kenikmatan hidup yang melimpah. Itulah yang menjadikan mereka tidak bekerja di tandu Negara Islam dan dalam kancah kehidupan kaum Muslimin. Negara banyak kehilangan kerja keras dari anak-anak umat yang sebenarnya mereka sangat mungkin menggunakannya dalam dakwah Islam. Kehilangan itu justeru digantikan dengan penyiksaan badan mereka.

Kemudian muncul perang tsaqofah (peradaban dan kebudayaan) yang dilancarkan Barat terhadap kaum Muslimin. Barat membawa hadlarah yang bertentangan dengan hadlarah Islam. Barat memberi gambaran (khayalan) pada kaum Muslimin bahwa hadlarah yang dibawa berasal dari mereka (kaum Muslimin), lalu mendatangkan pada mereka sistem-sistem yang bertentangan dengan sistem Islam. Barat juga memberi gambaran kepada kaum Muslimin bahwa sistem-sistem yang dibawanya sesuai dengan hukum-hukum Islam, lalu memberi mereka undang-undang yang bertentangan dengan hukum syara’, kemudian menjelaskan kepada mereka bahwa undang-undang itu tidak bertentangan dengan hukum Islam. Demikian itu membawa pengaruh besar terhadap kaum Muslimin, dan akibat lebih lanjut menyebabkan hadlarah Barat menguasai dan mendominasi kaum Muslimin. Kaum Muslimin mulai memandang kehidupan dengan berlandaskan asas manfaat. Kemudian mereka mengambil sebagian sistem Barat untuk diterapkan dalam Daulah ‘Utsmani, lalu menafsiri ulang tentang riba dan membuka bank-bank. Langkah-langkah ini mengantarkan mereka pada kesembronoan mengambil undang-undang Barat, dan akibatnya, mereka menelantarkan batasan-batasan hukum Syara’ dan sebagai gantinya mengambil undang-undang pidana Barat. Langkah ini merupakan bencana terbesar yang menimpa Negara Islam dan menjauhkannya dari penerapan hukum dengan asas Islam, meski Negara telah menggunakan fatwa-fatwa yang membolehkan perbuatan-perbuatan ini. Jauhnya penerapan hukum Islam ini menyebabkan gelora iman dalam tubuh Negara melemah, dan otomatis menjadikan Negara berjalan di luar cahaya petunjuk, yang pada gilirannya Negara melemah dan layu.

Ini kaitannya dengan sisi memperlemah pemahaman Islam. Sedangkan sisi penerapannya, ada beberapa faktor yang saling kait-mengait yang menjadikan penerapan Islam rusak. Di antara faktor-faktor itu adalah partai-partai politik. Kebanyakan partai-partai politik pasca Khulafa al-Rasyidin memandang bahwa hanya pendapat partainyalah yang harus dilaksanakan. Partai-partai ini sering mengambil tindakan-tindakan represif (secara militer) sebagai jalan untuk mengantarkan tujuannya pada penguasaan pemerintahan yang selanjutnya dipakai untuk sarana penerapan pendapatnya. Hampir tidak ada partai yang memposisikan umat sebagai jalan untuk penerapan pendapatnya. Akibatnya, muncul partai Partai Kelompok ‘Abbasi dan mereka menguasai Persi dan Iraq, kemudian menjadikannya titik sentral gerakan. Mereka kemudian bergerak hingga menguasai Negara dan menjadikannya pemerintahan berada di tangan bani Hasyim. Kemudian muncul Partai Kaum Fathimiyin. Mereka berhasil menguasai Mesir dan berhasil mendirikan Negara di sana untuk dijadikan titik sentral gerakan partai. Dari Mesir, mereka bergerak untuk menguasai Negara Islam agar pemerintahan berdiri di atas pondasi pemikiran-pemikiran aliran Ismailiyah (paham yang dianut bani Fathimiyin) yang menentang syara’. Di awal perkembangannya, mereka berhasil melancarkan pukulan yang mampu menghentikan penaklukan-penaklukan dan mnyebabkan Negara disibukkan dengan urusan-urusan dalam negeri (kestabilan). Namun, pada perkembangan berikutnya (tahapan kedua), mereka mampu menciptakan pertarungan antara dua Negara (Daulah ‘Abasi berpusat di Baghdad dan Daulah Fathimiyah berpusat di Mesir) yang menjadikan kaum Muslimin hidup dalam dua Negara dalam waktu yang sama, padahal kaum Muslimin tidak boleh memiliki lebih dari satu Negara. Pergulatan sekte-sekte berpartai (juga berpasukan) ini akhirnya berpengaruh dalam memperlemah Negara Islam. Dampak berikutnya, penaklukan dan pengembangan dakwah menjadi terhenti.

Adapun pihak yang menyebabkan partai-partai politik mengambil cara ini (tindakan-tindakan represif dan militeris) adalah para Khalifah bani Amawi. Mereka dalam mendelegasikan jabatan kekhilafahan memakai cara pemberian amanat (semacam pengangkatan putra mahkota). Seorang calon Khalifah diberi amanat atau wasiat untuk melanjutkan kekhilafahan sebelumnya (biasanya Khalifah sebelumnya masih ada hubungan nasab dengan calon Khalifah), kemudian dia dibaiat. Cara ini tidak cenderung mengangan-angankan penantian baiat dan untuk mengantarkan pada pemerintahan yang kurang berpegangan pada baiat. Mu’awiyah mengamanatkan kekhilafahan pada putranya, Yazid, lalu sumpah baiat diberikan kepadanya. Kemudian setiap Khalifah sesudahnya mengikuti jejaknya. Setiap Khalifah mengamanatkan kekhilafahan kepada calon Khalifah berikutnya, kemudian manusia membaiatnya.  Hal ini menggiring kaum Muslimimn untuk membaiat orang yang telah diamanati kekhilafahan. Sangat sedikit atau jarang mereka membaiat orang lain (yang tidak diamanati oleh Khalifah sebelumnya). Cara ini dipakai oleh partai-partai politik untuk memperoleh kekuatan sebagai jalan yang mengantarkan pada penguasaan pemerintahan. Pengangkatan Khalifah dengan cara memberi amanat (menunjuk calon atau putera mahkota atau pengganti) semacam ini sebenarnya pernah dilakukan khalifah Abu Bakar ketika mengamanatakan kekhilafahan kepada Umar. Karena adanya penerapan yang tidak sehat, maka hasil-hasilnya tidak baik sebagaimana dijelaskan di muka (seperti dalam kasus-kasus pengangkatan Khalifah sesudah periode Khulafa ar-Rasyidin). Abu Bakar meminta pendapat kaum Muslimin tentang orang yang akan menjadi khalifah sesudahnya. Dan musyawarah para calon Khalifah, akhirnya yang paling menonjol hanya terbatas pada Ali dan Umar, kemudian amanat diberikan kepada Umar. Maka, Umar dipilih menjadi Khalifah, dan setelah Abu Bakar wafat, baiat secara otomatis diberikan kepadanya. Ini adalah persoalan syara’. Akan tetapi para Khalifah sesudahnya merusak penerapan cara ini. Amanat mahota kekhilafahan yang seharusnya diberikan untuk umum, hanya mereka peruntukkan pada anank-anak, saudara-saudara, atau keluarga mereka sendiri. Kadang-kadang pengamanatan diberikan kepada lebih dari satu calon. Buruknya penerapan ini sudah tentu menyebabkan kaum Muslimin kesulitan memberikan baiat kepada orang yang dikehendaki, dan itu menyebabkan Negara Islam melemah. Sebenarnya, cara ini tidak banyak memberi pengaruh negatif jika Negara kuat. Namun, ketika Negara dalam keadaan lemah, pengaruhnya mulai tampak.

Persoalan yang merajam keadaan dalam negeri Negara Islam tidak terbatas pada masalah bait Khalifah saja, tetapi melebar hingga ke para penguasa daerah atau pejabat-pejabat tinggi Negara. Diamnya Daulah ‘Abbasi terhadap perilaku Abdurrahman yang berhasil memasuki Andalus (karena itu dijuluki al-Daakhil) dan membiarkan menguasai Andalus menyebabkan Abdurrahman memerintah Andalus secara penuh dan terpisah dari pusat Negara Islam (Baghdad). Abdurrahman memangkas sebagian wilayah Negara Islam dan mengaturnya dengan aturan tersendiri. Para penguasa sesudahnya yang menamakan diri dengan sebutan Amirul Mukminin juga mengatur pemerintahannya dengan aturan sendiri. Meski Andalus sebenarnya tidak terpisah dari tubuh Negara Islam dan kaum Muslimin yang tinggal di Andalus juga tidak terpisah dari kaum Muslimin lainnya yang tinggal di wilayah Daulah ‘Abbasi dan mereka tetap menjadi bagian dari kesatuan umat Islam, akan tetapi mereka terpisah secara administratif (aturan pemerintahan). Fakta ini menyebabkan kelemahan terserap ke dalam tubuh Daulah. Kelemahan itulah yang menjadikan kaum Kafir mudah menguasa Andalus. Padahal Negara Islam (Baghdad) waktu itu berada di puncak keluhuran dan kekuatan. Baghdad tidak mampu menolak serangan musuh yang melemahkan kondisi Andalus.

Ini kondisi yang terjadi di wilayah Barat Daulah (Daulah Andalus disebut wilayah Negara Islam bagian Barat). Adapun di wilayah Timur (pusat pemerintahan Negara Islam; Baghdad), pemerintah-pemerintah daerah (propinsi) diberikan kepada para gubernur secara umum. Tiap-tiap daerah diberi keleluasaan (otonomi) mengatur secara luas. Otonomi ini memberi kesempatan para  penguasa daerah untuk menggerakkan perasaan-perasaan kepemimpinan yang membuat mereka berambisi. Mereka memiliki kekuasaan yang otonom dalam administrasi (mengatur pemrintah daerah), sementara Khalifah merelakannya. Pengakuan atas legalitas kekuasaan Khalifah cukup dilakukan di mimbar-mimbar, pengeluaran surat keputusan yang diambil dari lembaga Khilafah, pembuatan uang dengan namanya, dan penyetoran pajak. Wilayah-wilayah propinisi yang memiliki kekuasaan otonom menjadikannya seperti Negara-negara federal, sebagaimana yang terjadi antara penguasa bani Saljuk dan Hamdani. Hal ini juga menyebabkan Negara Islam melemah.

Semua persoalan di atas menjadi sebab yang mengantarkan pada lemahnya Negara Islam. Kondisi ini terus berlangsung hingga Daulah ‘Utsmani datang dan menguasai Kekhilafahan. Mereka kemudian menyatukan hampir seluruh wilayah Negara Islam di bawah kekuasaan mereka, kemudian mengemban dakwah ke Eropa dan memulai penaklukan-penaklukan akan tetapi sayang, kekuasaannya tidak bersandar pada  dasar kekuatan iman para Khalifah pertama bani ‘Utsman. Khalifah-khalifah sesudahnya justeru bersandar pada kekuatan militer. Pemerintahannya tidak bersandar pada asas pemahaman islam yang benar dan penerapan yang sempurna. Oleh Karena itu, penaklukan-penaklukan yang diraihnya tidak memperoleh hasil sebagaimana penaklukan-penaklukan yang pertama. Di samping itu, di tubuh umat tidak ada kekuatan yang mendasar. Karena itu, kondisi yang mendominasi ini juga ikut memperlemah Daulah, kemudian memudar dan akhirnya Negara Islam hilang. Lenyapnya Negara Islam dari permukaan bumi tidak lain karena pengaruh faktor-faktor di atas, di samping karena macam-macam tipu daya yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.

Faktor-faktor yang memperlemah Daulah yang akhirnya menyebabkan lenyapnya Negara Islam secara ringkas dapat dikelompokkan menjadi dua faktor: (i) lemahnya pemahaman Islam dan (ii) buruknya penerapan Islam. Karena itu, yang dapat mengembalikan Negara Islam dalah pemahaman Islam yang benar, dan yang dapat menjaga kekuatan Negara adalah kelangsungan Negara yang terus menerus memahami Islam dengan benar, memperbaiki penerapannya dalam negeri, dan mengemban dakwahnya ke luar wilayah.

Cerita Aksi GeMa Pembebasan Tolak Kedubes AS di Indonesia

Hari ini begitu terik. Panas yang memanggang bumi sejak siang tadi belum mereda semenjak belasan pemuda yang tergabung dalam barisan gerakan mahasiswa pembebasan daerah Semarang melangsungkan aksinya. Di tengah terik ini mereka dengan lantang dan gagahnya meneriakkan takbir sambil bernyanyi riang:

“ Gemakan pembebasan tuk meraih ridho ilahi robi”

“Gemakan pembebasan tuh meraih ridho dari Ar Rohman”

“wahai kalian pembebas dunia”

“ladang dakwah jihad menanti di hadapan”

“mari gemakan pembebasan dunia”

“Gemakan takbir”

“Allahuakbar”

Syair-syair ini terus diulang-ulang sepanjang jalan eks Videotron. Seorang lelaki dengan jaket hitam dengan tinggi 165 cm tengah menyemangati kawan-kawannya dalam aksi kali ini yang digagas untuk mengusir AS karena AS adalah Negara penjajah. Ia memegang megaphone di tangan kanannya, dengan tali yang diselendangkan ke kiri bahunya dan tas yang tergendong di bahunya, ia terus mengumandangkan teriakan-teriakan kecaman terhadap AS dan sesekali menyelinginya dengan menyanyikan mars gema pembebasan. Cocok sekali dengan style mahasiswa. Meskipun sudah semester atas, semangat dakwahnya terus berkobar. Ezu namanya, dia mahasiswa Undip. Adalagi seorang lelaki yang menjadi pentolannya Gema di Semarang, dia adalah ketua Gema di Semarang, sebut saja lelaki itu Bung Rijal. Yang sering saya lihat di aksi-aksi gema ia senantiasa mengenakan jumper hitam dengan celana jeans yang sudah memudar warnanya. Dan aksi kali ini pun ia tidak meninggalkan kostum khas ala dirinya sendiri—lelaki yang kasual. Meski memiliki keunikan dalam melafadzkan lafal “r” menjadi “l” dia tidak kalah semangat dengan Ezu. Dia adalah lelaki yang kukagumi juga selain Ezu dalam style gema pembebasan. Dulu memang ada mahasiswa yang menurutku cocok sekali dengan style dan pembawaan Gema Pembebasan. Ia garang, tegas, blak-blakan dan bukan orang jawa tentunya, dia Ridwan Mansyur. Kalau orang Islam sudah pasti dong. Di Facebook dia suka menggunakan foto profil Monkey D. Luffy, seorang tokoh bajak laut yang kocak di seri One Piece, anime atau manga dari Jepang. Entah mengapa dia memakai foto profil itu, namun saya perah membaca postingannya saat ditanya kenapa Syabab kok memakai foto profil seperti itu. Dan dia menjawab, kalau semangat dan inspirasi kan bisa diperoleh dari siapapun. Meski itu tokoh anime ujarnya. Mungkin inilah yang melengkapi episode Gema Pembebasan dengan taringnya menantang kedzoliman penguasa dan korporasi asing di negeri mayoritas muslim ini dan senantiasa memberiakan solusi yang cerdas, aplikatif, dan handal yakni Syariah Islam yang dalam bingkai Khilafah.

Namun itu dulu, saat saya masih baru dan tidak mengerti banyak tentang dunia mahasiswa dan pergerakannya. Sekarang beliau sudah diterima kerja di Jakarta, entahlah pekerjaan apa yang dia tekuni sekarang ini. Yang jelas sekarang sudah tidak lagi kujumpai dia dalam setiap aksi gema yang dilakukan di Semarang. Yang tersisa kini hanyalah saya dan beberapa temen dulu seangkatan dengan Bung Ridwan. Yang terlihat sekarang, banyak wajah-wajah baru di Gema Pembebasan yang asing bagiku. Mereka adalah anggota baru di gema sekarang. Memang seiring berjalannya waktu pasti ada perubahan dan pergantian. Sebagaimana yang teman-teman Gema pahami juga kalau rezim neoliberal SBY juga pasti akan berakhir dan di saatnya nanti juga akan terbit fajar Khilafah yang akan membawa perdamaian bagi dunia dan menebarkan rahmat bagi setiap manusia.

Dengan lafadz “r” yang sudah bermetamorfosa menjadi “l” pun , bung Rijal duet dengan Ezu dalam menyemarakkan suasana aksi dengan menyenandungkan mars Gema Pembebasan. Sesekali di tengah nyanyian itu, Dia tersenyum dan berhenti sejenak karena lupa syairnya. Namun, ia cerdas juga, meskipun lupa syairnya ia alihkan dengan tetap mengulang-ulang nada yang sama. Mereka berdua, Ezu dan Bung Rijal berjalan dari Undip pasca Sarjana hingga eks Videotron dengan menempati berisan paling depan

Awalnya aksi kali ini hanya dimeriahkan oleh 7 orang. Saya sempat miris menyaksikan kondisi ini. Di tengah karut marutnya negeri  ini yang diatur denga ideologi setan kapitalisme dan para pengusungnya adalah para penghianat rakyat, dimana aktivitas utama pemuda Indonesia saat ini kebanyakan adalah pacaran dan hiburan yang marak dan digandrungi pemuda saat ini adalah, boy and girl band, artis korea, dan warga masyarakat kampung yang suka dangdutan yang memamerkan lekuk tubuh biduannya (atau goyang Caesar yang menjadi pengganti biduan wanita dengan goyangan yang sporty dan menguras tenaga—namun tetap tidak Syar’I jik adilakukan bersamaan sebagaiman di tayangan telivisi), dan di tengah apatisme para kaum intelktual—merekalah yang saat ini berdiri tegar menantang arus dan mendedahkan kebenaran kepada dunia. Semoga Allah yang maha menyaksikan melihat apa yang kalian saksikan wahai saudaraku. Dan sesungguhnya jumlah itu tidaklah penting. Meski kalau lebih banyak bisa lebih baik.  Lihat saja betapa kemenangan itu nyata dan pasti ketika Perang Badr, di bulan Ramadhan, dalam kondisi terik gurun pasir, dan pastinya dalam kondisi shaum mereka para mujahidin Badr tegap berdiri melawan kejahiliyahan, melawan keangkuhan, menentang kemusyrikan, menantang pasukan Kafir Quraisy yang jumlahnya tiga kali lipat dibandingkan jumlah mereka. Namun kemenangan dan janji Allah itu nyata. Ternyata mujahidin lah yang dimenangkan dalam peperangan yang bersejarah itu. Lantas. Kita pun dengan aqidah Islam sebagai landasan gerakan pasti akan dimenangkan oleh Allah SWT suatu saatnya nanti.

Mereka bertujuh dalam pandangan saya adalah sososk-sosok yang memesona. Bagaimana tidak, mereka di tengah terik ini turun ke jalan, menyuarakan Islam, menantang AS dan memaki kapitalisme, demokasi dan sekulairsme. Subhanallah , meski tidak ada yang memperhatikan pun mereka tetap melaksanakan aksinya. Polisi yang datang mengamankan jalannya aksi pun tidak lebih dari 10 orang, yang tergabung dalam sebuah mobil polisi saja, tidak lebih dari itu. Mereka, oknum polisi pun hanya duduk-duduk saja. Mungkin karena saking terbiasanya gema pembebasan melaksanakan aksi tanpa anarkhis jadi mereka pastinya sudah memahami kalau aksinya dijamain damai dan tidak bakar-bakar ban segala. Kalau bakar ayam di tengah askinya pasti pak polisi ikutan untuk bergabung. Hehehehe.

 Rencana aksi pun dirubah. Yang awalnya ada orasi dari masing-masing kampus di Perguruan Tinggi yang ada di Semarang, berubah haluan dengan aksi damai menyebarkan pers rilis Gema Pembebasan Daerah Semarang terkait tindakan spionase AS di Indonesia melalui Kedubesnya yang ada di Monas, Jakarta. “Mari kawan-kawanku, sebelum memulai aksi , marilah kita berdoa terlebih dahulu untuk kesuksesan dan kelancaran acara ini dan semoga Allah mencatatnya sebagai amal kebaikan buat kita”,  papar Bung Rijal sebelum memulai aksi. Dan kami pun mengiyakan dengan menundukkan kepala seraya memohon pada Allah SWT, penggenggam alam semesta, yang menurunkan Al-Qur’an sebagai kalamullah yang mulia, yang wajibul wujud. Sejenak telah berlalu, saya menatap ke depan. Melihat sekeliling dan bersiap-siap untuk membetuk barisan aksi.

“Ayo, bikin barisan dua-dua, eh…. Satu saf, eh bukan, satu berbanjar aja, biar panjang” ujar Ezu dengan megaphonenya, kami pun mengikuti intstruksinya. Setelah semua atribut dipakai, dari ikat kepala yang bertuliskan lafadz arab, laa illa ha ilallah muhamad rasull lullah”  juga papan aksi yang tidak lebih dari 10 buah, diantaranya bertuliskan AS=Negara Penjajah, Usir AS dari Indonesia, dan Syariah Khilafah HARGA MATI. Tidak ketinggalan juga bendera kebanggaan liwa, namun entah mengapa pasangannya “roya” tidak terlihat, juga ada bendera dengan lambang bola dunia yang diatasnya tertancap “roya” yang melingkari sebagian bola dunia tersebut. Lambang ini tercerap di secarik kain berwarna orange, ya inilah bendera pergerakan kami, Gema Pembebasan.

Sambil membawa satu bendera dan satu papan, masing-masing dari kami mulai menapakkan kakinya menuju eks Videotron. Gegap gempita (tidak terlalu membesar-besarkan berita kan?) aksi membahana badai ke setiap penjuru kota Semarang. Inilah kami, para pembebas dunia kegelapan kapitalisme, demokrasi sekularisme, kedatangan kami ke dunia ini bagaikan cahaya matahari yang mengusik dinginnya pagi subuh. Datangnya kami turun ke jalan akan membawa perubahan besar pada dunia. Turunnya kami ke jalan akan mengajak segenap lapisan masyarakat sadar akan kebenaran yang sudah menjadi kepastian datangnya, yakni Khilafah, kamilah para penyongsong tegaknya panji pelindung tauhid, kamilah para pejuang Islam itu.

Tidak kurang dari lima belas menit langkah kaki kami terhenti di eks videotron. Nampak begitu ramai para pengendara jalan, mobil, truk, motor, angkutan kota. Segenap kemajemukan masyarakat pun menghiasi jalan Pahlawan yang menjadi saksi segenap kegelapan gedung DPRD yang menghembuskan dana aspirasi pencekik rakyat, dana yang akan membuat rakyat semakin sengsara dengan kenaikan harga dimana-mana, krisis multi dimensi tak berkesudahan, pengangguran merajalela dan diobati dengan dana aspirasi yang hanya semakin membuat gendut pejabat penghianat rakyat (duh sedihnya masyarakat kecil).

Di tengah keberagaman itu, kami hadir membawa ragam baru sebuah perubahan. Sebuah sudut pandang lain terhadap realitas. Sesaat setelah tiba di eks videotron, panji liwa dan bendera Gema serta papan aksi kami pasang di tonjolan-tonjolan besi tepat di depan pintu gerbang kampus Undip Peleburan, dengan gagahnya mereka berkibar di timpa angin. Hingga papan-papannya pun ikut berjatuhan ditimpa angin yang kuat. Namun kemudian dibetulkan kembali dan diapit dengan kuat dengan cara lain (harus cerdas dengan kondisi minim khan?). Kemudian kami membagi tugas, satu rim press rilis kami bagi tujuh, dan tiap-tiap dari kami membagi-bagiannya ke segenap para pengguna jalan.

            Di tiap detik yang telah kami lewati, berpuluh-puluh dan bahkan ratusan wajah telah dilihat. Bersamaan dengan itu pula selebaran press rilis tertambat ditangan-tangan mereka. Harapan terdalam kami adalah agar mereka bisa membacanya nanti. Ketika sampai di tujuan, saat rehat, sudah mandi dan duduk manis di kursi di depan rumah kemudian mengamati kata demi kata, baris demi baris dan paragraf demi paragraf. Membacanya dengan penuh saksama, dengan penghayatan yang tinggi, dengan aktivitas alpha pada otak. Dan akhirnya, dengan landasan aqidah yang mereka miliki akan mendukung setulus hati, sepenuh jiwa dan apa adanya. Bahwa apa yag tertuang dalam naskah press rilis itu adalah suatu kebenaran. Sebuah analisis yang cerdas, dalam dan solutif terhadap realitas Indonesia di tengah cengkeraman Kapitaslime.

            Jika yang membaca di antara mereka adalah dari kalangan pemikir dan filosof ia akan berkata:

“ Sesungguhnya keagungan dan hakikat kebenaran ada pada tiap manusia yang mengetahui jati dirinya. Dan sungguh kehinaan di atas kehinaan bagi manusia yang berakal namun menempatkan akalnya di bawah hawa nafsunya, maka kondisi yang terjadi adalah ia tidak pantas memilik harga diri , ia telah tersesat dalam rimba belantara kerakusan dirinya. Ia tidak berdaulat dan senantiasa dijajajah. Ia senantiasa gagal dalam memahami siapa dirinya. Dan itulah Indonesia. Itulah mengapa AS berhasil dengan tanpa halangan karena pemimpin-pemimpin di Indonesia adalah budak bagi dirinya sediri sebelum mereka menjadi budak orang lain dan AS”

            Jika yang membacanya dari kalangan akademisi dan pengamat, mereka akan berujar:

“Kurang data apa lagi sih? Bukankah AS memang penjajah yang nyata? Bukankah cengkeraman AS ada di banyak Negara, tidak hanya Indonesia? Bukankah tiap Negara ketiga yang menjadi mitra AS hanya akan diperalat dan diperas kekayaan negaranya? Lantas, tulikah para penguasa negeri ini? Mahasiswa saja sudah mengetahui, bagaimana bisa mereka bisa buta melihat realitas AS di percaturan politik dunia? Bagaimana mereka bisa tuli mendengar tiap jutaan informasi yang bocor via wikileaks dan media maya lainnya dan bahkan reralitas AS sendiri dalam mengurusi negerinya? Lupakah mereka akan peristiwa Wall Street dan Shut Down kemarin? Maka, tidak lain mereka adalah antek asing. Mereka, belum bisa dikatakan pemimpin, karena belum mengabdi pada kepentingan rakyat. Hal ini terbukti dengan dikuasai beberapa asset sumber daya alam di Indonesia oleh mereka. Lihat saja Mesir, Libya, dan negeri-negeri Arab Spring yang terus berotasi dengan pemimpin-pemimpin yang menjadi boneka AS. AS senantiasa tidak melepaskan begitu saja mereka menentukan nasibnya sendiri. Nasib mereka sudah digariskan menjadi budak AS. Maka benarlah adanya pers rilis ini.”

 

 

PERNYATAAN SIKAP

LAWAN PENJAJAHAN DAN TINDAKAN SPIONASE NEGARA TERORIS AMERIKA

 

Sebagaimana yang ramai diberitakan selama sekitar empat bulan terakhir dalam berbagai media massa internasional, terungkap fakta yang menunjukkan tingkah congkak negara penjajah Amerika Serikat, yaitu strategi intelijen dengan menyadap alat komunikasi elektronik di banyak negara dunia. Berawal dari terungkapnya operasi intelijen Amerika Serikat pada awal Juli 2013 terhadap masyarakat dan Kanselir Jerman, berkembang pada fakta lain yang lebih menyedihkan, sebagaimana yang diberitakan oleh media terkemuka Jerman, Der Spiegel, Indonesia termasuk dalam salah satu dari 90 lokasi yang disadap, dengan titik tepatnya ada di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.

Terungkapnya fakta ini harus dipandang sebagai bentuk upaya memperkuat cengkraman penjajahan tidak langsung yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Indonesia. Di bidang tambang dan pengelolaan blok migas, Amerika Serikat merupakan salah satu pemain utama di Indonesia. Tentu masyarakat sangat familiar dengan Freeport McMoran, perusahaan tambang yang mengelola lahan di Tembagapura, Timika, Papua. Produksi tambang itu per hari mencapai 220.000 ton biji mentah emas dan perak. Selain Freeport, masih ada Newmont, perusahaan asal Colorado, Amerika, yang mengelola beberapa tambang emas dan tembaga di kawasan NTT dan NTB. Tahun lalu, setoran perusahaan ke pemerintah mencapai Rp 689 miliar, sudah mencakup semua pajak, dari keuntungan total mereka. Jika dari NTT saja, pada 2012 pendapatan Newmont mencapai USD 4,17 juta. Belum lagi sederet operator migas yang rata-rata kelas kakap sebagai mitra pemerintah menggelola blok migas. Chevron, memiliki jatah menggarap tiga blok, dan memproduksi 35 persen migas Indonesia. Disusul ConocoPhilips yang mengelola enam blok migas. Perusahaan yang telah 40 tahun beroperasi di Indonesia ini merupakan produsen migas terbesar ketiga di Tanah Air. Lalu, tentu saja ExxonMobil yang bersama Pertamina menemukan sumber minyak 1,4 miliar barel dan gas 8,14 miliar kaki kubik di Cepu, Jawa Tengah.

Berkenaan dengan hal tersebut, maka Gerakan Mahasiswa Pembebasan menyatakan:

1.      Menuntut Pemerintah Indonesia untuk mencabut izin pembangunan gedung Kedubes AS dan menutup Kedubes AS tersebut. Tindakan ini harus dilakukan sebagai bukti bahwa pemerintah Indonesia memang benar-benar menjaga keamanan dan kedaulatan negeri ini. Tapi bila  tidak dilakukan, maka hal ini juga menjadi bukti bahwa pemerintah telah tunduk pada tekanan negara penjajah.

2.      Menyerukan kepada seluruh umat Islam, rakyat dan mahasiswa untuk sungguh-sungguh menolak segala bentuk penjajahan termasuk yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya, dengan cara berjuang mewujudkan kehidupan Islami  dimana di dalamnya diterapkan syariah Islam di bawah naungan Khilafah. Keberadaan Khilafah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar, karena Khilafah inilah yang menjadi satu-satunya benteng sejati bagi umat Islam terhadap berbagai serangan yang dilakukan oleh kafir penjajah.

 

Semarang, 8 November 2013

Ketua  Gerakan Mahasiswa Pembebasan

Daerah Semarang

 

 

 

Saifur Rijal

HP. 085740 227 672

 

 

            Jika yang membacanya dari kalangan da’i, ulama, asatidz, atau mubaligh. Mereka akan bergumam:

Hasbunallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nasir. Hanya Allahlah tempat bergantung dan menjadi standar  bagi kaum yang di dalam jiwanya memiliki iman. Allahlah sumber kebenaran, dan dariNya distandarisasilah semua kebenaran yang bersifat relatif yang ada di benak manusia. Maka sudah tidak ada keraguan sedikitpun, hanya Allahlah yang menjadi ghayatul ghayah sebuah misi kehidupan. Dan Khilafah lah representasi kebenaran integral Islam yang kaffah. Maka dengan Khilafah sajalah Indonesia berdaulat dan benar-benar akan memutus hubungan dengan Negara muahriban fi’lan layaknya AS sekarang. Laa haula walaa quwata ilaa billah. Sungguh ada kebenaran yang dalam, kejernihan berfikir dan keberlangsungan yang abadi bagi para pengusung Khilafah di tengah badai hedonis yang tengah menimpa kaum muslimin. Hingga umat sekarang terjangkiti penyakit wahn, hubud dunya dan takut mati, mereka menjadi umat yang tidak memiliki kekuatan, bagaikan buih di lautan. Allahukabar, astagfirullahal ‘adziim.”

            Jika yang membacanya dari kalangan budayawan, mereka akan menanggapi:

“ Yah…. AS lagi, AS lagi. Ngomong-ngomong saya pernah ke Texas, Holywood, Penysilvia, Los Angeles, dan White House lho. Beberapa kali berkunjung ke AS, beberapa kali mengamati masyarakt sana, beberapa kali survey sistem kebudayaan mereka dan merumuskan satu kesimpulan tentang Amerika. Amerika Negara yang maju. Memang, namun demikian Amerika tidak lebih dari simfoni yang kehilangan harmoninya. Ia sebagaimana susunan Bethoven yang tidak lagi nyaman, ia Mozart yang tidak lagi menjadi solusi ampuh untuk membangkitan kedamaian hakiki. Ia kering. Ibarat padang yang gersang, tidak ada sumber air, tidak ada keteduhan pepohonan. Meski Amerika pemroduksi pesawat, teknologi komputer yang maju dan gedung-gedungnya yang mencakar-cakar langit. Ia tidak lebih dari baju permadani yang dikenakan pelacur. Indah namun busuk di dalamnya. Kalau berbicara AS maka Anda harus mereview lebih jauh dan menyelam lebih dalam di lautan ketenangan jiwa. Karena seni itu tenangnya jiwa dalam kebenaran, bukan terpuaskannya jasmani dalam kegembiraan. Mahasiswa ini terus bergerak, maka bergeraklah dengan seni yang membuat hati kalian tenteram, membuat ritme yang akan menyelamatkan dunia, membuat timbre yang mampu mengakomodir segenap warna suara. Dan harmonisasi dari kesemuanya itulah Khilafah Islamiyah. Kalian adalah para seniman pejuang kebenaran itu. Hatiku terpaut dan terkesima dengan gelegar seni yang mengguncang dunia ini.”

Namun, kami jumpai pula ada saja orang yang mengangkat tangannya, dengan melambaikan kelima jarinya tanda tidak ingin menerima selebaran ini. Kami pikir, mereka tanpa membacanya pun sudah mengecam AS dengan segala bentuk kebiadabannya terhadap dunia ketiga. Hingga mereka pun sudah sangat terbiasa dengan semua ini. Mereka sudah teramat memahami tabiat AS. Atau bisa jadi mereka adalah para pengggemar AS (namun kami tidak akan berfikir demikian meski ada potensi mereka itu adalah demikian). Karena kami ingin menjaga kebersihan hati dari segenap prasangka buruk yang hanya akan meberangus amal soleh kami.Amal soleh aksi ini atau amal soleh yang lain. Atau mereka menganggap kami sedang jualan suat produk. Hehehe. Ada-ada saja penjual sambil mengibarkan bendera liwa dan simbol GeMa Pembebasan, atau karena mereka tidak melihatnya? Akh, terlalu banyak prsangka dan praduga. Namun demikianlah keadaannya.  Belum saya pernah jumpai sejarahnya kalau ada penjual yang se-ideologis itu. Hehehehe.

Sekian dulu, capek. . . .

 header

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sublimasi Bangsa-Bangsa Menjadi Satu Umat

Rasulullah SAW wafat setelah seluruh jazirah Arab masuk Islam, setelah melumatkan kemusyrikan, setelah negara Islam memerintah dengan Islam, baik secara aqidah maupun sistemikkhilafah sublimasi, setelah Allah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya terhadap kaum muslimin dan meridhai Islam menjadi agama mereka, dan setelah beliau memulai seluruh dakwahnya ke seluruh umat dan bangsa-bangsa yang menjadi tetangganya dengan cara mengirimkan surat-surat kepada raja-raja dan para penguasanya, dengan detasemen-detasemen dan peperangan-peperangan di perbatasan Romawi di Mut’ah dan Tabuk.

Kemudian para Khalifah Rasyidin (Abubakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib) mengikuti jejak beliau. Mereka juga melakukan penaklukan-penaklukan. Irak yang penduduknya sangat heterogen berhasil ditaklukan. Ada yang beragama Nasrani, Mazdakiyah, Zaradastiyah dan adapula yang berbangsa Arab dan Persi. Tidak beberapa lama Persi menyusul. Penduduknya terdiri dari orang-orang ‘ajam, sedikit Yahudi, dan Romawi, namun mereka beragam dalam agama Persi. Syam juga jatuh ke tangan para Khilafah Rasyidin. Syam termasuk wilayah jajahan Romawi dan berbudaya dengan kebudayaan Romawi dan beragama Nashrani. Penduduknya terdiri dari bangsa Suriah, Arman, Yahudi, dan sebagian Yahudi dan sebagian Romawi. Afrika Utara yang penduduknya dari kaum Barbar dan di bawah kekuasaan Romawi akhirnya juga jatuh ke pangkuan kaum muslimin.

Setelah periode Khulafaur Rasyidin, muncul masa Amawi. Mereka juga mengikuti jejak-jejak para pendahulunya dengan melanjutkan penaklukan-penaklukan. Sind, Khawarizmi, dan Samarkand dikuasai dan dimasukkan ke wilayah negara Islam. Kemudian mereka menyeberangi selat Gibraltar lalu menaklukan Andalus dan dijadikan bagian dari negara Islam. Aneka macam negeri-negeri ini memiliki suku-suu, bahasa, agama, kebiasaan-kebiasaan, adat-istiadat, undang-undang dan kebudyaan yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan ini sudah barang tentu dilatari perbedaan-perbedaan pemikiran dan jiwa. Karena itu, proyek peleburan dan pembauran kemudian mengubah perbedaan-perbedaan itu menjadi umat yang satu yang disatukan oleh agama, bahasa, tsaqofah, dan undang-undang merupakan pekerjaan yang amat sulit dan berat. Jika dikategorikan berhasil, tentu merupakan sesuatu yang sangat tidak lazim, dan selain Islam tidak mungkin merampungkannya.

Proyek ini juga tidak akan terwujud kecuali dengan Negara Islam. Bangsa-bangsa ini setelah tunduk di bawah bayangan dan panji-panji dan pemerintahan Negara Islam serta masuk ke dalam jati diri Islam menjadi umat yang satu, yaitu umat Islam. Ini terjadi karena pengaruh penerapan hukum Islam terhadap mereka, disamping kenyataan mereka yang memeluk aqidah Islam. Ada empat hal penting yang merampungkan sublimasi bangsa-bangsa:

  1. Perintah-perintah Islam
  2. Pembauran kaum Muslimin penakluk dengan bansa-bangsa taklukan di tempat tinggal dan kehidupan
  3. Masuknya penduduk negeri taklukan ke dalam Islam
  4. Orang-orang yang memeluk Islam diubah secara total dan beralih dari satu keadaan ke keadaan yang baru (Isam)

 

Perintah-perintah Islam membawa konskuensi bagi para pemeluknya keharusan untuk menyarakan Islam, mengemban dakwahnya, dan menyebarkan hidayahnya. Mereka dituntut mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ini menurut kemampuan mereka. Tugas-tugas dakwah ini otomatis mengharuskan adanya jihad dan penaklukan negeri-negeri. Dua misi suci ini dilakukan sampai dapat mendudukkan manusia pada pemahaman Islam dan memposisikan mereka dalam perwujudan hakikat hukum-hukumnya. Misi ini tentunya juga menuntut Islam membiarkan manusia menentukan pilihannya. Jika mereka menghendaki Islam, bisa langsung memeluknya. Jika tidak, mereka tetap boleh memeluk agama lama mereka. Mereka hanya dituntut tunduk pada hukum-hukum Islam tentang urusan-urusan muamalah (hukum-hukum perdata) dan hukum-hukum pidana. Tujuannya untuk mengatur dan menata pekerjaan-pekerjaan manusia dengan kesatuan sistem yang menjamin pemecahan problem-problem mereka, disamping untuk menumbuhkan perasaan jiwa non-muslim bahwa kedudukan mereka di dalam sistem Islam (dalam hal undang-undang perdata dan pidana) sama dengan kaum Muslimin. Mereka semua saling terikat dan sama-sama sebagai warga negara yang punya kewajiban menerapkan sistem yang berlaku. Mereka dapat menikmati hidup dengan tentram dan akan selalu di bawah naungan panji-panji Islam.

Perintah-perintah Islam menciptakan suatu konskuensi, yaitu memandang orang-orang yang diperintah dengan pandangan kemanusiaan, bukan pandangan sektarian, kelompok atau madzhab. Karena itu, penerapan hukum-hukum terhadap seluruh komponen masyarakat harus dengan asas persamaan, bukan perbedaan, yaitu membedakan antara yang muslim dan non-muslim. Allah berfirman dalam surah Al-Maidah: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu berbakti karena Allah [dan] menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebh dekat kepada takwa. Dan bertakwallah kepada Allah. Sesugghnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Maidah:8).

Negara Islam memperlakukan sama terhadap semua manusia dalam aspek hukum dan keputusannya. Hakim ketika mengatur urusan-urusan manusia dan memutuskan, seorang qadhi ketika memutuskan keputusan di antara manusia, maka masing-masing tidak boleh memandang status terdakwa, juga tidak boleh melihat dengan selain penglihatan kemanusiaan. Islam harus menetapkan sistem pemerintahan dengan kesatuan yang menyatukan bagian-bagian wilyah negara, sebagaimana keharusannya menanggung kebutuhan-kebutuhan setiap wilayah Negara Islam dengan memberi anggaran yang diambil dari Bait Al-Mal (kas negara), tanpa memperhatikan apakah anggaran yang berhasil dikumpulkan sedikit atau banyak, apakah kekayaan negara memenuhi kebutuhan atau tidak, sebagaimana juga keharusan mengumpulkan kekayaan negara dari semua wilayah secara sentral, menyeluruh, dan menyatu. Dengan demikian, semua negeri taklukan menjadi satu wilayah dalam satu negara dengan dimasukkannya dalam Pemerintahan Islam yang berjalan secara pasti melalui peleburan.

Faktor terbesar yang berpengaruh membawa penduduk negeri-negeri taklukan memeluk Islam adalah pembauran yang dilakukan kaum Muslim sendiri sebagai pihak penakluk. Mereka dengan suka rela berbaur dengan penduduk setempat. Setelah menaklukan, mereka tinggal di negeri taklukan itu, berbaur dengan penduduk setempat, lalu mengajari dan mendidik mereka dengan dan tentang tsaqafah Islam. Mereka tinggal dengan penduduk asli di rumah-rumah saling mengikat hubungan tetanggaan sehingga pemukiman penduduk penakluk dan bangsa-bangsa taklukan kumpul menjadi satu. Seluruh penduduk tidak dipisahkan menjadi dua kelompok yang berbeda: kelompok penakluk dan kelompok yang ditaklukkan atau keompok pemenang dan kelompok yang dikalahkan. Mereka semua adalah rakyat Negara Islam yang masing-masing saling tolong menolong dalam menyelesaikan semua persoalan kehidupan. Mereka dipandang sama. Urusan-urusan dan kebutuhan khusus mereka sama-sama mendapat pelayanan yang sama (adil). Mereka pun akhirnya melihat sifat-sifat luhur yang menjadikan mereka dicintai oleh para penguasa dan Islam. Para penguasa dan seluruh kaum Muslimin [dibolehkan] menikah dengan Ahlul Kitab dan memakan sembelihan dan makanan mereka. Pembauran ini tentunya menjadi pendorong bagi mereka untuk memeluk Islam karena mereka dapat melihat pengaruh Islam dalam diri para penguasa, sebagaimana mereka melihat cahayanya dalam penerapan semua sistem. Dengan demikian, bangsa-bangsa ini saling meleburkan diri dan akhirnya menjadi umat yang satu.

Adapun masuknya negeri taklukan ke dalam Islam adalah dengan bentuk yang umum. Penduduk tiap daerah memeluk Islam secara bergelombang, sampai sekelompok penduduk di daerah terpencil dari negeri taklukan Islam memeluk Islam. Orang-orang masuk Islam secara berkelompok-kelompok, dan lambat-laun seluruh manusia menjadi kaum Muslimin. Islam tidak terbatas menjadi agama para penakluk. Dengan masuknya penduduk suatu negeri dalam Islam, maka mereka melebur dengan bangsa penakluk, lalu mereka menjadi satu umat.

Perombakan total yang diciptakan Islam dalam diri para pemeluknyadilakukan dengan mengangkat kesamaan akal mereka, lalu di tengah mereka diadakan aqidah Islam. Di atas kaidah pemikiran Islam, semua pemikiran dibangun.  Kebaikan dan keburukan pemikiran dianalogikan dengan standar kaidah ini. Mereka mengalami transformasi aqidah dan peribadatan, dari keimanan yang sentimentil menuju keimanan yang rasional dan dari penyembahan berhala, api, trinitas, dan bentuk-bentuk penyembahan lainnya yang tidak rasional menuju penyembahan Allah dan apa-apa yang dibentuk oleh pemikiran yang mendalam dan pandangan yang luas. Islam menjadikan mereka membenarkan adanya kehidupan lain dan menggambarkannya dengan gambaran yang dijelaskan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Dalam gambaran kehidupan itu dijelaskan tentang adanya nikmat (Surga) dan siksaan (Neraka). Akhirnya, mereka mengambar dan melihat kehidupan secara hakiki. Dengan demikian, kehidupan bagi mereka memiliki makna kendali dan ladang karena kedudukannya sebagai jalan bagi kehidupan lain yang lebih bahagia dan lebih abadi. Karena itu, mereka menerima dan menghadapi kehidupan dunia dengan sungguh-sungguh, tidak menyia-nyiakannya, dan menjadikannya sebagai sebab-sebab [perolehan nikmat akhirat dan ridha Allah], menikmati perhiasan dan rezeki Allah yang bagus-bagus yang dikeluarkan untuk hamba-hambaNya, dan menjadikan kehidupan memiliki standar-standar yang baik dan gambaran yang hakiki.

Setelah adanya standar kehidupan adalah manfaat dan manfaat ini dikendalikan untuk diamalkan. Ini adalah tujuan amal dan tujuannya adalah nilai amal itu. Maka, yang menjadi standar kehidupan adalah halal dan haram. Dan, yang menjadi kontrol dan arah amal adalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Selanjutnya, tujuan pengontrolan amal dengan perintah-perintah dan larangan-laranganNya adalah ridha Allah. Nilai amal akhirnya menjadi tujuan dari maksud pelaksanaan amalan itu. Nilai amal sendiri bentuknya macam-macam. Ada yang berupa ruhani jika bentuk amalnya adalah sholat, jihad atau yang sejenisnya. Ada yang berbentuk materi jika amalnya berbentuk jual beli, sewa menyewa atau yang sejenisnya. Ada yang berbentuk etika jika amalnya adalah amanat, rahmat atau yang sebentuk dengannya. Akibatnya mereka membeda-bedakan antara nilai yang diarahkan ke perbuatan dan nilai amal yang dikerjakan dengan amal untuk nilai itu. Dengan demikian, Islam menciptakan gambaran kehidupan yang berbeda dengan gambaran yang mereka peroleh sebelumnya dan menjadikannya hakikat kehidupan yang memiliki gambaran yang hakiki dengan standar yang diletakkan oleh Allah. Standar itu berupa perintah-perintah dan larangan-larangan Allah, yaitu halal dan haram.

Islam menjadikan kehidupan memiliki makna yang hakiki dalam pandangan mereka. Setelah memperoleh kebahagiaan dengan lapar yang dikenyangkan dan jasad yang diberi makan, maka kebahagiaan hakiki yang harus mereka peroleh adalah ridha Allah. Kebahagiaan adalah ketentraman abadi yang dimiliki manusia. Kebahagiaan yang demikian tidak akan diperoleh denga kelezatan-kelezatan dan syahwat-syahwat, tetapi hanya dengan memperoleh ridha Tuhan semesta alam.

Seperti demikianlah keadaannya. Dalam mengarahkan pandangan bangsa-bangsa yang memeluk Islam untuk kehidupan dan untuk diamalkan, Islam memberi pengaruh kuat. Mereka diharuskan mengamalkan Islam dalam kehidupan. Islam mengubah tingkatan-tingkatan tatanan nilai , lalu meninggikan yang satu dan merendahkan yang lain. Setelah kehidupan menjadi tingkatan tata nilai yang tertinggi bagi manusiadan mabda’ adalah tingkatan yang paling sedikit (rendah), maka Islam membalik tingkatan-tingkatan ini, lalu menjadikan mabda’ di tingkatan pertama (tertinggi) dan kehidupan di tingkatan yang paling sedikit (rendah). Dengan demikian, Islam mampu mengubah pemeluknya menjadi orang yang mempu mendermakan hidupnya di jalan Islam karena tingkatan tata nilai Islam (mabda’) lebih mahal atau lebih tinggi daripada kehidupan itu sendiri. Ini sangat berpengaruh dalam mendorong pemeluknya untuk lebih berani menanggung beban-beban berat dan kesulitan-kesulitan di jalan Islam.

Dengan demikian, segala sesuatu dalam kehidupan diletakkan di tingkatan-tingkatan yang sesuai dengan hal-hal itu. Dampaknya, kehidupan menajdi luhur. Orang Islam bisa merasakan ketenangan yang abadi dalam kehidupan. Di seluruh alam hanya ada satu rumusan teladan (nilai) yang idela, tetap, baku, dan tidak berubah, yaitu keridhaan Allah. Ini menyebabkan keteladanan tertinggi di sisi manusia berubah. Setelah bangsa-bangsa memiliki nilai keteladanan yang tinggi dan bermacam-macam, mereka akhirnya hanya memiliki satu-satunya keteladanan tertinggi, baku, dan kokoh. Akibat perubahan [nilai] keteladanan yang tertinggi yang dimiliki bangsa-bangsa dan umat-umat, maka makna segala sesuatu di mata mereka menjadi berubah dan pemahaman mereka tentang keutamaan-keutamaan sesuatu juga berubah.

Keberanian, kesatriaan, membela kelompok atau suku, bangga terhadap harta dan jumlahnya, kemuliaan hingga batas yang berlebih-lebihan, loyal terhadap kabilah atau kaum, kersa dalam permusuhan, menuntut balas, dan apa-apa yang sejenis dengannya adalah pokok-pokok keutamaan. Lalu Islam datang dan tidak menjadikan nilai-nilai itu sebagai pokok-pokok keutamaan dan tidak membiarkannya sebagaimana adanya. Akan tetapi, Islam mengubahnya menjadikan sifat-sifat yang menghiasi manusia dengan perintah-perintah Allah yang perintah-perintah itu dipenuhi semata-mata karena perintahNya, bukan karena esensi keutamaan-keutamaan itu, juga bukan karena di dalamnya terkandung manfaat-manfaat, serta bukan karena sesuatu yang diseret oleh kebanggaan, juga bukan karena kebiasaan-kebiasaan, adat-adat, dan warisan-warisan yang harus dipelihara. Karena itu, wajib menundukkan manfaat-manfaat individu, kesukuan, kebangsaan dan umat untuk perintah-perintah Islam semata.

Seperti demikianlah yang dikerjakan Islam. Islam melakukan transformasi akal dan jiwa bangsa-bangsa yang memeluk Islam. Setelah memeluk Islam, mereka mengubah pribadi dan konsep-konsep mereka pra-Islam tentang alam, manusia dan kehidupan, serta standar-standar mereka tentang segala hal dalam kehidupan. Mereka menajdi paham bahwa kehidupan memiliki makna khusus, yaitu keluhuran dan kesempurnaan. Mereka menjadi manusia baru yang memilki keteladanan tunggal (nilai ideal) yang tertinggi dan baku, yaitu ridha Allah. Memperoleh keteladanan tertinggi, yakni keridhaan Allah, bagi mereka adalah kebahagiaan yang dirindukan. Dengan demikian, mereka menjadi makhluk lain yang berbeda dengan kemakhlukan mereka sebelumnya.

Dengan empat hal ini, semua bangsa yang tunduk pada Negara Islam melepaskan diri dari keadaannya yang semula. Pemikiran-pemikiran dan semua arah pandangannya menyatu dalam kehidupan sehingga menajdi satu. Penyelesaian problem-problem menyatu dengan penyelesaian yang satu. Maslahah-maslahahnya juga menyatu, lalu menjadi satu maslahah, yaitu maslahah Islam. Tujuan-tujuan mereka dalam kehidupan menyatu, lalu menjadi satu tujuan, yaitu meninggikan kalimat Allah. Sudah pasti, semua bangsa ini melebur ke dalam Islam, lalu mereka menjadi umat yang satu, yaitu umat Islam.

 

Kira-kira Siapa Dia?

Dari arah jalan seberang seorang laki-laki berjalan, langkahnya semakin jelas kalau Dia sedang menuju sebuah warung makan yang menyediakan menu baso otak sapi.Sampailah Ia ke warung yang dituju. Disana lelaki paruh baya duduk termangu di depan warung. Tatapannya kososng ke depan. Seolah ia sedang menahan beban berat suatu kehidupan. Namun dari tatapan yang kosong itu, ia tetap lelaki yang tegar. Justeru dengan sorot matanya yang sayu nan apa admerenunganya, ia seoah ingin mengatakan pada dunia bahwa Aku adalah lelak yang telah eninggalkan dunia  ini. Aku tidak seperti kebanyakan orang yang sekarang mati-matian mengejar dunia nan penuh gemerlap.

*********

Belum sempat kakinya melangkahkan masuk ke dalam warung Ia sempatkan diri untuk menyapa lelaki tersebut.

“Punten Pak, kula angsal lungguh teng mriki?”

tanya lelaki tersebut sembari menunjuk kursi panjang di sebelah lelaki tersebut”

Oh, monggo mas”

“Punten pak, naminipun sinten nggih?”

“Pak Iwan”

“Asalipun pundi?”

“Meteseh”Lelaki yang datang dari ujung seberang jalan terdiam, lelaki paruh baya kemudian menanyakan beberapa pertanyaan:

“Nah Masipun, saking pundi?”

“Kula nembe mawon saking Simpanglima Pak, onten acara Suroan” tanpa menjawab pertanyaan inti, Ia melanjutkan dengan nada yang penuh dengan semangat muda nan bergelora.

“Suroan niku wos acaranipun tarhib Muharram 1435H. Hizbut Tahrir ingkang ngawontenake pak”

“Oooh, Sampeyan Hizbut Tahrir” tukas lelaki paruh baya tadi seoah sudah mengenal Hizbut Tahrir

“Nah teng mriki seg nopo toh Pak”

“Kula seg nganter Mbah”

“Bapak remen maos boten? koran,tabloid utawi majalah?”

“Nggih remen”

“Kula nggadahaih majalah Al-Waie’ Pak”

Sambil menarik  tas yang tergendong di pundaknya, Ia meletakannya di pangkuannya, kemudian merogoh ke dalam dan ia keluarkan beberapa majalah Al Waie’ dan memberikan satu buah untuk lelaki paruh baya tadi. Beberapa jurus waktu terlewati, bunyi piring dan perabot dapur yang lainnya mengisi kekosongan dialog di atara dua lelaki yang baru bertemu ini. Tiga menit dalam keheningan dialog, lelaki paruh baya tadi hanya melihat-lihat foto agenda dakwah yang dimuat di majalah. Tanpa komentar sedikitpun. Nampaknya sang pemuda tadi ingin menyampaikan sesuatu kepada lelaki paruh baya tadi. Namun tiba-tiba hasratnya hilang kerana Mbah yang ditunggu dari tadi sudah di bibir pintu keluar.

” Oh ya Mas, kula pamit riyin”

“Oh, monggo Pak”semenjak itu dialog terputus, mungkin untuk selamanya. Lelaki paruh baya itu berdiri . Membenarkan peci putihnya dan beranjak dari kursi kemudian mendekati motor yang sudah terparkir di depan warung sebelum kedatangan pemuda tadi. Dari kejauhan nampak, bahwa celananya ternyata cingkrang.

Tokoh Meulaboh Berdiksusi Bahas Penerapan Syariah dan Khilafah

HTI Press. Pada hari Selasa tgl 29 Oktober 2013 sejak pukul 20.30 s.d 23.00 wib di Lantai 2 Kafe Malaka Kota Meulaboh telah berkumpul peserta kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Peran Ulama dan Tokoh Dalam Perubahan Besar Dunia Menuju Syari’ah dan Khilafah”. Kegiatan FGD dihadiri peserta yang terdiri dari para Dosen, Tokoh Muda, Teungku/Ustadz, Pengusaha dan Elemen masyarakat lainnya yang berjumlah kurang lebih 30 orang.

Kegiatan FGD yang dipimpin oleh Ust.Chairuddin diawali dengan pengantar materi oleh Ust. Ibnu Aziz Fathoni, M.Pd. Materi pengantar yang disajikan dengan disertai visualisasi video perjuangan para Mujahid Syam dalam menegakkan Daulah Islam menjadikan peserta cukup antusias mengikuti kegiatan FGD tersebut.

Ust. Kamil Syafruddin merupakan salah seorang Tokoh Intelektual Meulaboh sempat memberikan pernyataan dukungannya terhadap Perjuangan Hizbut Tahrir dalam menegakkan Syariah melalui Khilafah Ala Minhaj Nubuwah. Beberapa peserta lain juga memberikan petanyaan berkaitan kiprah dakwah Hizbut Tahrir. Kegiatan FGD berjalan cukup alot dan disertai diskusi-diskusi yang cukup hangat. Pada sesi akhir kegiatan, para peserta FGD saling berjabat-tangan sebelum meninggalkan ruangan. [] MI HTI Meulaboh