Cerita Aksi GeMa Pembebasan Tolak Kedubes AS di Indonesia

Hari ini begitu terik. Panas yang memanggang bumi sejak siang tadi belum mereda semenjak belasan pemuda yang tergabung dalam barisan gerakan mahasiswa pembebasan daerah Semarang melangsungkan aksinya. Di tengah terik ini mereka dengan lantang dan gagahnya meneriakkan takbir sambil bernyanyi riang:

“ Gemakan pembebasan tuk meraih ridho ilahi robi”

“Gemakan pembebasan tuh meraih ridho dari Ar Rohman”

“wahai kalian pembebas dunia”

“ladang dakwah jihad menanti di hadapan”

“mari gemakan pembebasan dunia”

“Gemakan takbir”

“Allahuakbar”

Syair-syair ini terus diulang-ulang sepanjang jalan eks Videotron. Seorang lelaki dengan jaket hitam dengan tinggi 165 cm tengah menyemangati kawan-kawannya dalam aksi kali ini yang digagas untuk mengusir AS karena AS adalah Negara penjajah. Ia memegang megaphone di tangan kanannya, dengan tali yang diselendangkan ke kiri bahunya dan tas yang tergendong di bahunya, ia terus mengumandangkan teriakan-teriakan kecaman terhadap AS dan sesekali menyelinginya dengan menyanyikan mars gema pembebasan. Cocok sekali dengan style mahasiswa. Meskipun sudah semester atas, semangat dakwahnya terus berkobar. Ezu namanya, dia mahasiswa Undip. Adalagi seorang lelaki yang menjadi pentolannya Gema di Semarang, dia adalah ketua Gema di Semarang, sebut saja lelaki itu Bung Rijal. Yang sering saya lihat di aksi-aksi gema ia senantiasa mengenakan jumper hitam dengan celana jeans yang sudah memudar warnanya. Dan aksi kali ini pun ia tidak meninggalkan kostum khas ala dirinya sendiri—lelaki yang kasual. Meski memiliki keunikan dalam melafadzkan lafal “r” menjadi “l” dia tidak kalah semangat dengan Ezu. Dia adalah lelaki yang kukagumi juga selain Ezu dalam style gema pembebasan. Dulu memang ada mahasiswa yang menurutku cocok sekali dengan style dan pembawaan Gema Pembebasan. Ia garang, tegas, blak-blakan dan bukan orang jawa tentunya, dia Ridwan Mansyur. Kalau orang Islam sudah pasti dong. Di Facebook dia suka menggunakan foto profil Monkey D. Luffy, seorang tokoh bajak laut yang kocak di seri One Piece, anime atau manga dari Jepang. Entah mengapa dia memakai foto profil itu, namun saya perah membaca postingannya saat ditanya kenapa Syabab kok memakai foto profil seperti itu. Dan dia menjawab, kalau semangat dan inspirasi kan bisa diperoleh dari siapapun. Meski itu tokoh anime ujarnya. Mungkin inilah yang melengkapi episode Gema Pembebasan dengan taringnya menantang kedzoliman penguasa dan korporasi asing di negeri mayoritas muslim ini dan senantiasa memberiakan solusi yang cerdas, aplikatif, dan handal yakni Syariah Islam yang dalam bingkai Khilafah.

Namun itu dulu, saat saya masih baru dan tidak mengerti banyak tentang dunia mahasiswa dan pergerakannya. Sekarang beliau sudah diterima kerja di Jakarta, entahlah pekerjaan apa yang dia tekuni sekarang ini. Yang jelas sekarang sudah tidak lagi kujumpai dia dalam setiap aksi gema yang dilakukan di Semarang. Yang tersisa kini hanyalah saya dan beberapa temen dulu seangkatan dengan Bung Ridwan. Yang terlihat sekarang, banyak wajah-wajah baru di Gema Pembebasan yang asing bagiku. Mereka adalah anggota baru di gema sekarang. Memang seiring berjalannya waktu pasti ada perubahan dan pergantian. Sebagaimana yang teman-teman Gema pahami juga kalau rezim neoliberal SBY juga pasti akan berakhir dan di saatnya nanti juga akan terbit fajar Khilafah yang akan membawa perdamaian bagi dunia dan menebarkan rahmat bagi setiap manusia.

Dengan lafadz “r” yang sudah bermetamorfosa menjadi “l” pun , bung Rijal duet dengan Ezu dalam menyemarakkan suasana aksi dengan menyenandungkan mars Gema Pembebasan. Sesekali di tengah nyanyian itu, Dia tersenyum dan berhenti sejenak karena lupa syairnya. Namun, ia cerdas juga, meskipun lupa syairnya ia alihkan dengan tetap mengulang-ulang nada yang sama. Mereka berdua, Ezu dan Bung Rijal berjalan dari Undip pasca Sarjana hingga eks Videotron dengan menempati berisan paling depan

Awalnya aksi kali ini hanya dimeriahkan oleh 7 orang. Saya sempat miris menyaksikan kondisi ini. Di tengah karut marutnya negeri  ini yang diatur denga ideologi setan kapitalisme dan para pengusungnya adalah para penghianat rakyat, dimana aktivitas utama pemuda Indonesia saat ini kebanyakan adalah pacaran dan hiburan yang marak dan digandrungi pemuda saat ini adalah, boy and girl band, artis korea, dan warga masyarakat kampung yang suka dangdutan yang memamerkan lekuk tubuh biduannya (atau goyang Caesar yang menjadi pengganti biduan wanita dengan goyangan yang sporty dan menguras tenaga—namun tetap tidak Syar’I jik adilakukan bersamaan sebagaiman di tayangan telivisi), dan di tengah apatisme para kaum intelktual—merekalah yang saat ini berdiri tegar menantang arus dan mendedahkan kebenaran kepada dunia. Semoga Allah yang maha menyaksikan melihat apa yang kalian saksikan wahai saudaraku. Dan sesungguhnya jumlah itu tidaklah penting. Meski kalau lebih banyak bisa lebih baik.  Lihat saja betapa kemenangan itu nyata dan pasti ketika Perang Badr, di bulan Ramadhan, dalam kondisi terik gurun pasir, dan pastinya dalam kondisi shaum mereka para mujahidin Badr tegap berdiri melawan kejahiliyahan, melawan keangkuhan, menentang kemusyrikan, menantang pasukan Kafir Quraisy yang jumlahnya tiga kali lipat dibandingkan jumlah mereka. Namun kemenangan dan janji Allah itu nyata. Ternyata mujahidin lah yang dimenangkan dalam peperangan yang bersejarah itu. Lantas. Kita pun dengan aqidah Islam sebagai landasan gerakan pasti akan dimenangkan oleh Allah SWT suatu saatnya nanti.

Mereka bertujuh dalam pandangan saya adalah sososk-sosok yang memesona. Bagaimana tidak, mereka di tengah terik ini turun ke jalan, menyuarakan Islam, menantang AS dan memaki kapitalisme, demokasi dan sekulairsme. Subhanallah , meski tidak ada yang memperhatikan pun mereka tetap melaksanakan aksinya. Polisi yang datang mengamankan jalannya aksi pun tidak lebih dari 10 orang, yang tergabung dalam sebuah mobil polisi saja, tidak lebih dari itu. Mereka, oknum polisi pun hanya duduk-duduk saja. Mungkin karena saking terbiasanya gema pembebasan melaksanakan aksi tanpa anarkhis jadi mereka pastinya sudah memahami kalau aksinya dijamain damai dan tidak bakar-bakar ban segala. Kalau bakar ayam di tengah askinya pasti pak polisi ikutan untuk bergabung. Hehehehe.

 Rencana aksi pun dirubah. Yang awalnya ada orasi dari masing-masing kampus di Perguruan Tinggi yang ada di Semarang, berubah haluan dengan aksi damai menyebarkan pers rilis Gema Pembebasan Daerah Semarang terkait tindakan spionase AS di Indonesia melalui Kedubesnya yang ada di Monas, Jakarta. “Mari kawan-kawanku, sebelum memulai aksi , marilah kita berdoa terlebih dahulu untuk kesuksesan dan kelancaran acara ini dan semoga Allah mencatatnya sebagai amal kebaikan buat kita”,  papar Bung Rijal sebelum memulai aksi. Dan kami pun mengiyakan dengan menundukkan kepala seraya memohon pada Allah SWT, penggenggam alam semesta, yang menurunkan Al-Qur’an sebagai kalamullah yang mulia, yang wajibul wujud. Sejenak telah berlalu, saya menatap ke depan. Melihat sekeliling dan bersiap-siap untuk membetuk barisan aksi.

“Ayo, bikin barisan dua-dua, eh…. Satu saf, eh bukan, satu berbanjar aja, biar panjang” ujar Ezu dengan megaphonenya, kami pun mengikuti intstruksinya. Setelah semua atribut dipakai, dari ikat kepala yang bertuliskan lafadz arab, laa illa ha ilallah muhamad rasull lullah”  juga papan aksi yang tidak lebih dari 10 buah, diantaranya bertuliskan AS=Negara Penjajah, Usir AS dari Indonesia, dan Syariah Khilafah HARGA MATI. Tidak ketinggalan juga bendera kebanggaan liwa, namun entah mengapa pasangannya “roya” tidak terlihat, juga ada bendera dengan lambang bola dunia yang diatasnya tertancap “roya” yang melingkari sebagian bola dunia tersebut. Lambang ini tercerap di secarik kain berwarna orange, ya inilah bendera pergerakan kami, Gema Pembebasan.

Sambil membawa satu bendera dan satu papan, masing-masing dari kami mulai menapakkan kakinya menuju eks Videotron. Gegap gempita (tidak terlalu membesar-besarkan berita kan?) aksi membahana badai ke setiap penjuru kota Semarang. Inilah kami, para pembebas dunia kegelapan kapitalisme, demokrasi sekularisme, kedatangan kami ke dunia ini bagaikan cahaya matahari yang mengusik dinginnya pagi subuh. Datangnya kami turun ke jalan akan membawa perubahan besar pada dunia. Turunnya kami ke jalan akan mengajak segenap lapisan masyarakat sadar akan kebenaran yang sudah menjadi kepastian datangnya, yakni Khilafah, kamilah para penyongsong tegaknya panji pelindung tauhid, kamilah para pejuang Islam itu.

Tidak kurang dari lima belas menit langkah kaki kami terhenti di eks videotron. Nampak begitu ramai para pengendara jalan, mobil, truk, motor, angkutan kota. Segenap kemajemukan masyarakat pun menghiasi jalan Pahlawan yang menjadi saksi segenap kegelapan gedung DPRD yang menghembuskan dana aspirasi pencekik rakyat, dana yang akan membuat rakyat semakin sengsara dengan kenaikan harga dimana-mana, krisis multi dimensi tak berkesudahan, pengangguran merajalela dan diobati dengan dana aspirasi yang hanya semakin membuat gendut pejabat penghianat rakyat (duh sedihnya masyarakat kecil).

Di tengah keberagaman itu, kami hadir membawa ragam baru sebuah perubahan. Sebuah sudut pandang lain terhadap realitas. Sesaat setelah tiba di eks videotron, panji liwa dan bendera Gema serta papan aksi kami pasang di tonjolan-tonjolan besi tepat di depan pintu gerbang kampus Undip Peleburan, dengan gagahnya mereka berkibar di timpa angin. Hingga papan-papannya pun ikut berjatuhan ditimpa angin yang kuat. Namun kemudian dibetulkan kembali dan diapit dengan kuat dengan cara lain (harus cerdas dengan kondisi minim khan?). Kemudian kami membagi tugas, satu rim press rilis kami bagi tujuh, dan tiap-tiap dari kami membagi-bagiannya ke segenap para pengguna jalan.

            Di tiap detik yang telah kami lewati, berpuluh-puluh dan bahkan ratusan wajah telah dilihat. Bersamaan dengan itu pula selebaran press rilis tertambat ditangan-tangan mereka. Harapan terdalam kami adalah agar mereka bisa membacanya nanti. Ketika sampai di tujuan, saat rehat, sudah mandi dan duduk manis di kursi di depan rumah kemudian mengamati kata demi kata, baris demi baris dan paragraf demi paragraf. Membacanya dengan penuh saksama, dengan penghayatan yang tinggi, dengan aktivitas alpha pada otak. Dan akhirnya, dengan landasan aqidah yang mereka miliki akan mendukung setulus hati, sepenuh jiwa dan apa adanya. Bahwa apa yag tertuang dalam naskah press rilis itu adalah suatu kebenaran. Sebuah analisis yang cerdas, dalam dan solutif terhadap realitas Indonesia di tengah cengkeraman Kapitaslime.

            Jika yang membaca di antara mereka adalah dari kalangan pemikir dan filosof ia akan berkata:

“ Sesungguhnya keagungan dan hakikat kebenaran ada pada tiap manusia yang mengetahui jati dirinya. Dan sungguh kehinaan di atas kehinaan bagi manusia yang berakal namun menempatkan akalnya di bawah hawa nafsunya, maka kondisi yang terjadi adalah ia tidak pantas memilik harga diri , ia telah tersesat dalam rimba belantara kerakusan dirinya. Ia tidak berdaulat dan senantiasa dijajajah. Ia senantiasa gagal dalam memahami siapa dirinya. Dan itulah Indonesia. Itulah mengapa AS berhasil dengan tanpa halangan karena pemimpin-pemimpin di Indonesia adalah budak bagi dirinya sediri sebelum mereka menjadi budak orang lain dan AS”

            Jika yang membacanya dari kalangan akademisi dan pengamat, mereka akan berujar:

“Kurang data apa lagi sih? Bukankah AS memang penjajah yang nyata? Bukankah cengkeraman AS ada di banyak Negara, tidak hanya Indonesia? Bukankah tiap Negara ketiga yang menjadi mitra AS hanya akan diperalat dan diperas kekayaan negaranya? Lantas, tulikah para penguasa negeri ini? Mahasiswa saja sudah mengetahui, bagaimana bisa mereka bisa buta melihat realitas AS di percaturan politik dunia? Bagaimana mereka bisa tuli mendengar tiap jutaan informasi yang bocor via wikileaks dan media maya lainnya dan bahkan reralitas AS sendiri dalam mengurusi negerinya? Lupakah mereka akan peristiwa Wall Street dan Shut Down kemarin? Maka, tidak lain mereka adalah antek asing. Mereka, belum bisa dikatakan pemimpin, karena belum mengabdi pada kepentingan rakyat. Hal ini terbukti dengan dikuasai beberapa asset sumber daya alam di Indonesia oleh mereka. Lihat saja Mesir, Libya, dan negeri-negeri Arab Spring yang terus berotasi dengan pemimpin-pemimpin yang menjadi boneka AS. AS senantiasa tidak melepaskan begitu saja mereka menentukan nasibnya sendiri. Nasib mereka sudah digariskan menjadi budak AS. Maka benarlah adanya pers rilis ini.”

 

 

PERNYATAAN SIKAP

LAWAN PENJAJAHAN DAN TINDAKAN SPIONASE NEGARA TERORIS AMERIKA

 

Sebagaimana yang ramai diberitakan selama sekitar empat bulan terakhir dalam berbagai media massa internasional, terungkap fakta yang menunjukkan tingkah congkak negara penjajah Amerika Serikat, yaitu strategi intelijen dengan menyadap alat komunikasi elektronik di banyak negara dunia. Berawal dari terungkapnya operasi intelijen Amerika Serikat pada awal Juli 2013 terhadap masyarakat dan Kanselir Jerman, berkembang pada fakta lain yang lebih menyedihkan, sebagaimana yang diberitakan oleh media terkemuka Jerman, Der Spiegel, Indonesia termasuk dalam salah satu dari 90 lokasi yang disadap, dengan titik tepatnya ada di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.

Terungkapnya fakta ini harus dipandang sebagai bentuk upaya memperkuat cengkraman penjajahan tidak langsung yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Indonesia. Di bidang tambang dan pengelolaan blok migas, Amerika Serikat merupakan salah satu pemain utama di Indonesia. Tentu masyarakat sangat familiar dengan Freeport McMoran, perusahaan tambang yang mengelola lahan di Tembagapura, Timika, Papua. Produksi tambang itu per hari mencapai 220.000 ton biji mentah emas dan perak. Selain Freeport, masih ada Newmont, perusahaan asal Colorado, Amerika, yang mengelola beberapa tambang emas dan tembaga di kawasan NTT dan NTB. Tahun lalu, setoran perusahaan ke pemerintah mencapai Rp 689 miliar, sudah mencakup semua pajak, dari keuntungan total mereka. Jika dari NTT saja, pada 2012 pendapatan Newmont mencapai USD 4,17 juta. Belum lagi sederet operator migas yang rata-rata kelas kakap sebagai mitra pemerintah menggelola blok migas. Chevron, memiliki jatah menggarap tiga blok, dan memproduksi 35 persen migas Indonesia. Disusul ConocoPhilips yang mengelola enam blok migas. Perusahaan yang telah 40 tahun beroperasi di Indonesia ini merupakan produsen migas terbesar ketiga di Tanah Air. Lalu, tentu saja ExxonMobil yang bersama Pertamina menemukan sumber minyak 1,4 miliar barel dan gas 8,14 miliar kaki kubik di Cepu, Jawa Tengah.

Berkenaan dengan hal tersebut, maka Gerakan Mahasiswa Pembebasan menyatakan:

1.      Menuntut Pemerintah Indonesia untuk mencabut izin pembangunan gedung Kedubes AS dan menutup Kedubes AS tersebut. Tindakan ini harus dilakukan sebagai bukti bahwa pemerintah Indonesia memang benar-benar menjaga keamanan dan kedaulatan negeri ini. Tapi bila  tidak dilakukan, maka hal ini juga menjadi bukti bahwa pemerintah telah tunduk pada tekanan negara penjajah.

2.      Menyerukan kepada seluruh umat Islam, rakyat dan mahasiswa untuk sungguh-sungguh menolak segala bentuk penjajahan termasuk yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya, dengan cara berjuang mewujudkan kehidupan Islami  dimana di dalamnya diterapkan syariah Islam di bawah naungan Khilafah. Keberadaan Khilafah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar, karena Khilafah inilah yang menjadi satu-satunya benteng sejati bagi umat Islam terhadap berbagai serangan yang dilakukan oleh kafir penjajah.

 

Semarang, 8 November 2013

Ketua  Gerakan Mahasiswa Pembebasan

Daerah Semarang

 

 

 

Saifur Rijal

HP. 085740 227 672

 

 

            Jika yang membacanya dari kalangan da’i, ulama, asatidz, atau mubaligh. Mereka akan bergumam:

Hasbunallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nasir. Hanya Allahlah tempat bergantung dan menjadi standar  bagi kaum yang di dalam jiwanya memiliki iman. Allahlah sumber kebenaran, dan dariNya distandarisasilah semua kebenaran yang bersifat relatif yang ada di benak manusia. Maka sudah tidak ada keraguan sedikitpun, hanya Allahlah yang menjadi ghayatul ghayah sebuah misi kehidupan. Dan Khilafah lah representasi kebenaran integral Islam yang kaffah. Maka dengan Khilafah sajalah Indonesia berdaulat dan benar-benar akan memutus hubungan dengan Negara muahriban fi’lan layaknya AS sekarang. Laa haula walaa quwata ilaa billah. Sungguh ada kebenaran yang dalam, kejernihan berfikir dan keberlangsungan yang abadi bagi para pengusung Khilafah di tengah badai hedonis yang tengah menimpa kaum muslimin. Hingga umat sekarang terjangkiti penyakit wahn, hubud dunya dan takut mati, mereka menjadi umat yang tidak memiliki kekuatan, bagaikan buih di lautan. Allahukabar, astagfirullahal ‘adziim.”

            Jika yang membacanya dari kalangan budayawan, mereka akan menanggapi:

“ Yah…. AS lagi, AS lagi. Ngomong-ngomong saya pernah ke Texas, Holywood, Penysilvia, Los Angeles, dan White House lho. Beberapa kali berkunjung ke AS, beberapa kali mengamati masyarakt sana, beberapa kali survey sistem kebudayaan mereka dan merumuskan satu kesimpulan tentang Amerika. Amerika Negara yang maju. Memang, namun demikian Amerika tidak lebih dari simfoni yang kehilangan harmoninya. Ia sebagaimana susunan Bethoven yang tidak lagi nyaman, ia Mozart yang tidak lagi menjadi solusi ampuh untuk membangkitan kedamaian hakiki. Ia kering. Ibarat padang yang gersang, tidak ada sumber air, tidak ada keteduhan pepohonan. Meski Amerika pemroduksi pesawat, teknologi komputer yang maju dan gedung-gedungnya yang mencakar-cakar langit. Ia tidak lebih dari baju permadani yang dikenakan pelacur. Indah namun busuk di dalamnya. Kalau berbicara AS maka Anda harus mereview lebih jauh dan menyelam lebih dalam di lautan ketenangan jiwa. Karena seni itu tenangnya jiwa dalam kebenaran, bukan terpuaskannya jasmani dalam kegembiraan. Mahasiswa ini terus bergerak, maka bergeraklah dengan seni yang membuat hati kalian tenteram, membuat ritme yang akan menyelamatkan dunia, membuat timbre yang mampu mengakomodir segenap warna suara. Dan harmonisasi dari kesemuanya itulah Khilafah Islamiyah. Kalian adalah para seniman pejuang kebenaran itu. Hatiku terpaut dan terkesima dengan gelegar seni yang mengguncang dunia ini.”

Namun, kami jumpai pula ada saja orang yang mengangkat tangannya, dengan melambaikan kelima jarinya tanda tidak ingin menerima selebaran ini. Kami pikir, mereka tanpa membacanya pun sudah mengecam AS dengan segala bentuk kebiadabannya terhadap dunia ketiga. Hingga mereka pun sudah sangat terbiasa dengan semua ini. Mereka sudah teramat memahami tabiat AS. Atau bisa jadi mereka adalah para pengggemar AS (namun kami tidak akan berfikir demikian meski ada potensi mereka itu adalah demikian). Karena kami ingin menjaga kebersihan hati dari segenap prasangka buruk yang hanya akan meberangus amal soleh kami.Amal soleh aksi ini atau amal soleh yang lain. Atau mereka menganggap kami sedang jualan suat produk. Hehehe. Ada-ada saja penjual sambil mengibarkan bendera liwa dan simbol GeMa Pembebasan, atau karena mereka tidak melihatnya? Akh, terlalu banyak prsangka dan praduga. Namun demikianlah keadaannya.  Belum saya pernah jumpai sejarahnya kalau ada penjual yang se-ideologis itu. Hehehehe.

Sekian dulu, capek. . . .

 header

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s